KJK Bukan Tempat bagi Jiwa yang Jembalang
Engkau menutup dongengmu dengan metafora yang teramat getir, menyebut-nyebut tentang jembalang yang kalut dan rumah hantu yang sunyi. Oh, betapa malangnya tuduhan itu.
Lihatlah ruko tiga lantai di Komplek Ruko Central Kencana No. 20 Tanjungpinang yang berdiri dengan gagah bertuliskan “Komunitas Jurnalis Kepri”. Tempat itu adalah monumen dari sebuah dedikasi yang berdarah-darah. Ia dibangun dari susunan batu, semen, keringat, dan kehormatan yang nyata—bukan dari fatamorgana, bukan pula dari ilusi kebencian.
Rumah itu bukan sarang jembalang, bukan pula tempat berkumpulnya jiwa-jiwa yang kalah dan kalut. Menuduhnya sebagai tempat terkutuk hanyalah cermin dari kekalutan pikiran penulisnya sendiri, yang tengah tersesat dan kehilangan arah di persimpangan jalan nuraninya.
Rumah itu telah menjadi saksi sejarah yang anggun. Di sanalah, pernah duduk Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak, serta sejumlah petinggi negeri.
Dan baru-baru ini delapan orang doktor dari berbagai disiplin ilmu duduk melingkar dengan takzim, membedah helai demi helai kebaikan dalam buku “Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman” karya wartawan senior Kepri, Ridarman Bay.
Buku yang kami bedah adalah karya yang nyata, bukan buku ilusi yang ditulis oleh jembalang yang hanya pandai menebar janji palsu—menjanjikan menulis buku biografi saya, memungut biayanya empat tahun lalu, namun hingga detik ini buku itu hanya terkubur di angan-angan yang mati. Maka tanyalah pada hatimu yang paling dalam: Engkaukah sebenarnya jembalang yang kau ceritakan itu?
