OPINI Lukita Dinarsyah Tuwo: Bukan Real Madrid, Bukan Milan: Dunia Kini Menoleh ke Como—dan Ada Indonesia di Baliknya

Kebangkitan Como 1907 menunjukkan bahwa modal akan menjadi kekuatan apabila dipadukan dengan visi, kesabaran, profesionalisme, dan keberpihakan kepada masyarakat. Indonesia membutuhkan lebih banyak “Como”—terutama di negerinya sendiri.

Akhir-akhir ini, pada waktu senggang, saya lebih senang menonton berbagai tayangan YouTube tentang Como 1907—ada rasa bangga dan bahagia menyaksikan keberhasilan mereka, terlebih karena terdapat tangan dan kepemimpinan Indonesia di balik kebangkitan itu. Saya memang sedang menghindar dari berita tentang penangkapan karena korupsi, bencana, kriminalitas, dan berbagai peristiwa lain yang membuat kita miris dan sedih, lalu menemukan kembali optimisme melalui kisah Como.

Bacaan Lainnya

Dalam sepak bola Eropa, nama Como dahulu hampir tidak pernah diperhitungkan. Ketika orang berbicara tentang Liga A Italia, nama yang muncul biasanya Juventus, Inter Milan, AC Milan, Napoli, atau AS Roma. Sementara itu, Como lebih dikenal sebagai sebuah kota kecil yang indah di tepi danau, tempat berlibur orang kaya dan selebritas dunia.

Namun, keadaan berubah sangat cepat.

Como 1907, klub yang beberapa tahun lalu masih bermain di Serie D—tingkat keempat dalam piramida sepak bola Italia—kini tampil di Liga Champions. Pada musim 2025/2026, Como finis di posisi keempat Serie A, berada di atas Juventus dan AC Milan, serta untuk pertama kalinya memperoleh tiket ke kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa.

Bukan Real Madrid. Bukan pula AC Milan. Dunia kini mulai menoleh ke Como.

Dan di balik perjalanan yang hampir seperti dongeng itu, ada modal, visi, keberanian, dan kepemimpinan dari Indonesia.

Dari Kebangkrutan Menuju Liga Champions

Como 1907 sebenarnya bukan klub baru. Klub ini didirikan pada 1907 dan telah menjadi bagian dari sejarah serta identitas masyarakat Kota Como selama lebih dari satu abad. Namun, sejarah panjang tidak selalu berarti perjalanan yang mulus.

Como mengalami kesulitan keuangan, degradasi, dan kebangkrutan. Pada 2016, klub ini kembali menghadapi kebangkrutan. Como kemudian dibentuk ulang pada 2017 dan harus memulai kembali perjalanan dari Serie D.

Titik balik terjadi pada 4 April 2019, ketika Como diambil alih oleh SENT Entertainment Ltd., perusahaan media dan hiburan yang terkait dengan kelompok usaha Djarum, keluarga Hartono dari Indonesia. Ketika itu, Como belum menjadi klub glamor. Tidak ada jaminan klub tersebut akan kembali ke Serie A, apalagi tampil di Liga Champions.

Namun, justru di situlah arti penting investasi tersebut.

Djarum tidak datang ketika Como telah menjadi klub besar. Mereka datang ketika klub ini masih berada di bawah, menghadapi keterbatasan keuangan, infrastruktur, organisasi, dan kepercayaan diri.

Pos terkait