Artinya, waktu yang tersedia bukan lagi tanpa batas.
Jika penduduk usia produktif hari ini tetap bekerja pada kegiatan bernilai tambah rendah, Indonesia bukan hanya kehilangan bonus demografi. Indonesia akan memasuki masyarakat menua sebelum sempat menjadi negara maju.
Negara dapat menjadi tua setelah menjadi kaya. Itu persoalan yang masih dapat dikelola.
Menjadi tua sebelum menjadi kaya adalah persoalan yang jauh lebih berat.
Pendidikan harus mendahului transformasi industri
Korea Selatan membangun pendidikan menengah sebelum kebutuhan tenaga terampil melonjak. Angka partisipasi bersih sekolah menengah meningkat dari sekitar 28 persen pada 1971 menjadi 78 persen pada 1983. Setelah itu, pendidikan tinggi diperluas, sementara perguruan tinggi teknik memasok kebutuhan industri.
Urutannya penting.
Pendidikan tidak menunggu industri mengeluhkan kekurangan tenaga terampil. Pendidikan disiapkan untuk struktur ekonomi yang hendak dibangun.
Jepang menghubungkan sistem pendidikan, pekerjaan jangka panjang, pembiayaan perusahaan, dan pengembangan keterampilan di tempat kerja. Singapura terus menyesuaikan sistem pendidikannya dengan perubahan strategi ekonomi. Tiongkok memperluas pendidikan teknik, sains, dan rekayasa bersamaan dengan industrialisasi dan pembangunan kemampuan teknologi.
Keempatnya tidak memisahkan kebijakan pendidikan dari strategi ekonomi.
Sebaliknya, pendidikan yang tidak mengetahui arah transformasi industri berisiko menghasilkan lulusan untuk pekerjaan yang tidak tersedia. Dunia usaha mengeluhkan kekurangan keterampilan, sementara lulusan mengeluhkan kekurangan pekerjaan.
Universitas rajin meluluskan sarjana. Industri rajin mengimpor teknologi. Keduanya tumbuh, tetapi kadang seperti belum saling mengenal.
Perusahaan sebagai ruang belajar bangsa
Modal manusia tidak dibentuk hanya di sekolah dan universitas. Sebagian besar kemampuan produktif justru berkembang di dalam perusahaan melalui praktik, eksperimen, kegagalan, interaksi dengan pembeli, hubungan dengan pemasok, dan persaingan.
Itulah sebabnya Korea Selatan menempatkan perusahaan—bukan kementerian—sebagai unit utama inovasi.
Pemerintah dapat membangun laboratorium, memberikan insentif pajak, menyediakan pembiayaan R&D, menghasilkan peneliti, dan membuka akses terhadap teknologi. Tetapi kemampuan menyerap dan menciptakan teknologi harus hidup di dalam perusahaan.
Tiongkok menjalankan proses serupa. Teknologi tidak hanya dibeli, tetapi dipelajari dan diadaptasi. Dalam pengembangan kendaraan listrik, kemampuan baterai dibangun terlebih dahulu, permintaan kemudian diciptakan, dan setelah perusahaan domestik cukup kuat, kompetisi diperketat.
