Ketika Hasil PISA Masih Rendah dan Bonus Demografi Mendekati Akhir
Negara sering disebut kaya karena memiliki minyak, gas, batu bara, nikel, hutan, laut, dan tanah yang luas. Kekayaan kemudian dihitung dari berapa banyak cadangan yang tersimpan di bawah tanah dan berapa besar komoditas yang dapat diekspor.
Cara pandang tersebut tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, sejarah pembangunan menunjukkan bahwa kekayaan alam tidak otomatis membuat suatu bangsa menjadi maju.
Sebagian negara memiliki sumber daya alam berlimpah, tetapi tetap tertahan dalam pendapatan menengah. Sebagian lainnya bahkan mengalami konflik, korupsi, ketimpangan, dan ketergantungan pada komoditas. Sebaliknya, sejumlah negara yang tidak banyak memiliki sumber daya justru mampu membangun industri, teknologi, perusahaan global, dan kesejahteraan yang tinggi.
Tanah mereka mungkin tidak menyimpan banyak kekayaan. Tetapi manusianya menciptakan kekayaan.
Tulisan kedua dari rangkaian lima tulisan mengenai transformasi negara-negara Asia ini membahas sumber kekayaan yang sering tidak terlihat: pengetahuan, keterampilan, teknologi, kemampuan organisasi, dan perusahaan yang sanggup mengubah semuanya menjadi nilai tambah.
Sumber daya alam adalah modal, bukan takdir
Jepang, Korea Selatan, dan Singapura tidak membangun kemajuannya di atas kelimpahan sumber daya alam.
Jepang sangat bergantung pada impor energi dan bahan baku. Korea Selatan juga tidak memiliki basis sumber daya yang sebanding dengan skala industrinya. Singapura bahkan memiliki wilayah dan pasar domestik yang sangat kecil.
Keterbatasan tersebut menciptakan tekanan. Untuk mengimpor, mereka harus mengekspor. Untuk mengekspor, mereka harus menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan dunia. Untuk bertahan dalam persaingan, mereka harus terus meningkatkan kualitas, teknologi, dan produktivitas.
Tiongkok memiliki keadaan berbeda. Wilayah, penduduk, dan pasarnya sangat besar. Namun, skala tidak dibiarkan hanya menjadi sumber tenaga kerja murah. Tiongkok secara bertahap mengubah ratusan juta pekerja menjadi basis manufaktur, memperluas pendidikan teknik, menyerap teknologi asing, membangun kemampuan perusahaan, dan kemudian masuk ke bidang kendaraan listrik, baterai, telekomunikasi, kecerdasan buatan, serta teknologi maju lainnya.
