OPINI Lukita Dinarsyah Tuwo : Negeri Kaya yang Terlalu Sibuk Mengurus Izin Menjadi Kaya (1 – 5)

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Kalau ada persoalan, kita membentuk tim. Kalau tim belum berhasil, dibentuk satuan tugas. Kalau satuan tugas berjalan lambat, dibentuk tim percepatan. Setelah itu, mungkin diperlukan sekretariat bersama untuk mengoordinasikan tim percepatan dan satuan tugas tadi.

Acemoglu menggunakan arti institusi yang lebih luas. Institusi adalah aturan permainan yang menentukan:

Bacaan Lainnya

siapa boleh memasuki pasar;

siapa memperoleh izin dan kredit;

apakah kontrak dihormati;

apakah hukum berlaku sama;

apakah usaha baru dapat bersaing;

dan apakah kekuasaan dapat dikoreksi.

Suatu negara dapat memiliki sistem perizinan digital, tetapi belum tentu memiliki institusi yang inklusif. Kalau pemohon masih membutuhkan orang dalam, yang berubah hanya layarnya. Hubungan kekuasaannya tetap analog.

Inklusif atau Ekstraktif?

Acemoglu membedakan institusi menjadi dua kelompok besar: inklusif dan ekstraktif.

Institusi inklusif membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar, bekerja, berusaha, berinovasi, dan menikmati hasil jerih payahnya. Hukum dapat diprediksi, persaingan dijaga, pendidikan tersedia, dan mobilitas sosial dimungkinkan.

Institusi ekstraktif bekerja sebaliknya. Kekayaan dan kesempatan terkonsentrasi pada kelompok terbatas. Izin menjadi pagar, regulasi menjadi alat melindungi pemain lama, dan kedekatan lebih berharga daripada produktivitas.

Dalam sistem yang terlalu ekstraktif, pengusaha tidak lagi bertanya, “Produk apa yang dapat saya ciptakan?”

Ia bertanya, “Siapa yang harus saya kenal?”

Anak muda tidak bertanya, “Keahlian apa yang perlu saya kuasai?”

Ia mulai bertanya, “Lingkaran mana yang harus saya masuki?”

Kalau hubungan lebih menguntungkan daripada inovasi, negara sebenarnya sedang memberikan insentif terbesar bukan kepada produktivitas, melainkan kepada pencarian rente.

Pos terkait