“Hari ini muncul pertanyaan, mengapa fasilitas dan atraksi terasa seperti milik wisatawan saja, sementara sebagian masyarakat hanya menjadi penonton. Tanpa sadar, kita seperti terbagi dalam kasta ekonomi,” katanya.
Ia menambahkan, bahkan masyarakat yang memiliki penghasilan di atas UMK pun masih harus mengatur pengeluaran secara ketat untuk menikmati perkembangan kota. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata belum sepenuhnya menciptakan dampak ekonomi yang merata.
Secara ekonomi, pariwisata memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar, seperti membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan UMKM, meningkatkan investasi, serta memperkuat sektor jasa dan perdagangan. Namun manfaat tersebut hanya optimal jika didukung kebijakan yang berpihak pada masyarakat lokal.
Surya menegaskan, pembangunan pariwisata yang sehat harus mampu menghadirkan keadilan ekonomi dan kesempatan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memastikan pariwisata tidak hanya menjadi simbol kemajuan, tetapi juga instrumen pemerataan kesejahteraan.
“Pariwisata yang sehat seharusnya menghadirkan keadilan dan kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakatnya,” tegasnya.
Dengan potensi yang besar dan posisi strategis di kawasan regional, Kepri dinilai memiliki peluang kuat untuk menjadikan pariwisata sebagai pilar utama ekonomi daerah. Namun, keberhasilan tersebut akan sangat ditentukan oleh sejauh mana sektor ini mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat lokal, bukan hanya bagi investor dan wisatawan. (Iman)
