Siapa sangka, air mata penundaan itu justru digantikan oleh senyuman semesta di Kota Gurindam Tanjungpinang. Jalan menuju puncak itu akhirnya terbentang melalui rumah yang saya bangun dengan cinta, Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).
Bekerja sama dengan UPN Veteran Yogyakarta, sebuah ruang ujian dibuka di Tanjungpinang pada tanggal 29 – 30 Agustus 2026.
Di dalam ruang penuh ketegangan itu, di hadapan mata penguji yang tajam dan tanpa kompromi, ego seorang wartawan senior saya luruhkan.
Saya kembali menjadi seorang murid yang tekun. Fisik saya mungkin tak lagi sekuat pemuda yang tiga puluh tahun lalu berlari mengejar berita, namun gairah yang membakar dada ini masih persis sama.
Lembar demi lembar materi uji saya selesaikan dengan jemari yang bergetar oleh rindu akan pembuktian, tepat waktu sebelum waktu yang diberikan penguji berakhir.
Dan saat-saat mendebarkan itu pun tiba. Sebuah kalimat meluncur, membuat jakun saya naik turun menahan buncahan haru yang menyumbat tenggorokan.
Alhamdulillah, nama saya bersanding bersama empat jiwa tangguh lainnya yang mengikuti jenjang Utama, yakni Roma Uly Sianturi, Dede Rusdiana, Anton Marulam Silitonga dan Elhadif Putra, dinyatakan resmi: KOMPETEN.
Tiga puluh tahun. Tiga dekade bukan waktu yang singkat untuk sebuah pengakuan yang sah. Saya telah menua di jalanan, menerjang badai, menyuarakan kebenaran demi mereka yang tak bersuara.
Hari ini, Senin (7/9/2026, nama saya sudah tayang di data sertifikasi wartawan website Dewan Pers sebagai wartawan utama dengan Nomor : 16077-UPNYK/WU/DP/VIII/2026/14/04/73.
Kini, selembar sertifikat Wartawan Utama itu bukan lagi sekadar kertas formalitas. Bagi saya, itu adalah sebuah mahkota kesabaran.
Sebuah penegasan paling indah dari semesta bahwa dedikasi sejati tidak akan pernah kedaluwarsa, dan untuk sebuah kehormatan profesi, tidak akan pernah ada kata terlambat.
