Apakah produk tersebut masuk ke industri komponen, baterai, material maju, elektronik, mesin, atau kimia khusus? Atau akhirnya tetap dikirim ke luar negeri sebagai bahan antara?
Industrialisasi yang sesungguhnya harus memperpanjang rantai nilai di dalam negeri, memperbesar keterkaitan dengan pemasok lokal, membawa teknologi, meningkatkan kompleksitas produk, dan menciptakan pekerjaan dengan produktivitas lebih tinggi.
Dengan demikian investasi bukan hanya menambah stok modal, tetapi mengubah struktur ekonomi.
Ekspor Harus Ikut Menarik Pertumbuhan
Pertumbuhan enam persen juga membutuhkan ekspor yang lebih kuat. Pasar domestik Indonesia memang besar dan menjadi salah satu penyangga utama ekonomi. Namun pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan sulit hanya mengandalkan konsumsi domestik.
Investasi perlu semakin diarahkan ke industri manufaktur bernilai tambah tinggi, elektronik, mesin, alat transportasi, teknologi bersih, agroindustri, ekonomi digital, data center, jasa modern, dan pariwisata berkualitas.
Kebijakan perdagangan dan investasi karena itu tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Investor yang datang perlu dibantu mendapatkan pasar, perjanjian perdagangan harus benar-benar dimanfaatkan, dan diplomasi ekonomi harus semakin menghasilkan transaksi.
Promosi investasi jangan berhenti pada pesan, “datanglah karena pasar Indonesia besar.”
Pesan yang lebih menarik adalah: “produksilah di Indonesia, gunakan pasar Indonesia, dan jadikan Indonesia basis memasuki pasar dunia.”
Strateginya Ada. Lalu Siapa yang Mengantarkan?
Di sinilah persoalan klasik muncul.
Strategi investasi ada. KI dan KEK ada. Agenda industrialisasi ada. Program vokasi ada. Reskilling dan upskilling ada. Infrastruktur, pembiayaan, ekspor, dan reformasi regulasi juga ada.
