“BI menilai transformasi digital ini bukan sekadar tren, tetapi menjadi fondasi penting untuk mendorong efisiensi ekonomi, memperkuat UMKM, dan mengakselerasi integrasi ekonomi regional. Sektor transportasi juga memiliki ruang besar untuk memperluas digitalisasi, termasuk pembayaran non-tunai di moda angkutan umum,” tegasnya.
Bank Indonesia memetakan keseimbangan risiko (balance of risks) yang akan mempengaruhi perekonomian Kepri tahun depan. Dengan faktor-faktornya antara lain, Transmisi penurunan suku bunga global dan domestik yang masih berlanjut dan Kepastian regulasi melalui PP 25 dan 28 Tahun 2025 yang diharapkan memperkuat gairah investasi.
Sementara itu, gaktor penekannya antara lain, Implementasi tarif resiprokal Amerika Serikat dan ketatnya persaingan perdagangan internasional dan berlanjutnya konflik geopolitik dunia yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan sentimen global.
Bank Indonesia menegaskan pentingnya sinergi kebijakan yang tangguh dan mandiri agar pertumbuhan ekonomi Kepri tahun 2026 bisa lebih tinggi dan berdaya tahan.
Sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat menunjukkan performa positif. Kepri mencatat:
1. Tingkat Pengangguran Terbuka 2024: 6,45%
2. Tingkat Kemiskinan 2024: 4,91%
3. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2024: 79,83 – salah satu yang tertinggi di Indonesia
Meski masih terdapat ruang perbaikan, posisi ini menegaskan bahwa kualitas hidup di Kepri terus membaik dari waktu ke waktu.
Bank Indonesia menyampaikan komitmennya untuk terus memperkuat sektor UMKM sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi Kepri. Berbagai program pembinaan, peningkatan akses pembiayaan, dan perluasan digitalisasi transaksi akan terus menjadi prioritas.
“Di sisi lain, BI juga menilai bahwa perbaikan iklim investasi, penguatan daya saing regional, serta pemanfaatan teknologi digital akan menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi ekonomi Kepri dalam jangka panjang,” tambahnya lagi.
Dengan berbagai dinamika global dan domestik, Kepri tetap memiliki peluang besar untuk mencetak pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan pada 2026. Sinergi kebijakan, peningkatan digitalisasi, penguatan UMKM, dan perbaikan kualitas investasi akan menjadi fondasi utama dalam memaksimalkan potensi ekonomi wilayah kepulauan ini. (Iman Suryanto)










