“Industri di Batam sangat kuat. Tapi pertumbuhan tinggi saja tidak cukup. Kita ingin pertumbuhan itu merata dan berkelanjutan. Di sinilah ekonomi syariah berperan, karena memiliki karakteristik adil, inklusif, dan berkelanjutan,” jelasnya.
Rony menekankan pentingnya konektivitas antara industri besar dengan UMKM lokal. Menurutnya, industri yang tumbuh pesat akan memberikan efek berganda (multiplier effect) jika terhubung dengan pelaku UMKM.
“Industri butuh logistik makanan, katering, seragam, hingga berbagai perlengkapan lainnya. Kalau ini bisa diisi oleh UMKM lokal, dampaknya luar biasa. UMKM akan tumbuh seiring dengan pertumbuhan industri,” katanya.
Momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabilitas harga pada 2025, lanjut Rony, menjadi ruang akselerasi bagi ekonomi syariah dengan UMKM sebagai pelaku utama. Hal ini diharapkan mampu menjawab tantangan kesenjangan ekonomi sekaligus memperkuat pemerataan kesejahteraan.
Dalam KURMA 2026, BI Kepri bersama mitra menghadirkan tiga fokus utama. Pertama, penguatan produk halal dari hulu ke hilir. Prosesnya dimulai dari onboarding, kurasi, pelatihan, hingga pemasaran dan transaksi. Salah satu sorotan adalah pengembangan modest fashion dan wastra Melayu Kepri.
BI Kepri menghadirkan desainer nasional untuk meningkatkan kualitas produk, sekaligus mendorong wastra Melayu menjadi trademark daerah. Motif-motif khas Melayu diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas dan meningkatkan nilai tambah ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM perempuan.
Kedua, penguatan sektor olahan makanan halal, termasuk sertifikasi halal dan pelibatan juru sembelih halal (Juleha) guna memastikan rantai pasok sesuai prinsip syariah.
Ketiga, penguatan aspek keuangan dan digitalisasi. BI mendorong UMKM terhubung dengan pembiayaan perbankan serta memanfaatkan sistem pembayaran digital, termasuk QRIS.
“Kita dorong UMKM menggunakan QRIS agar transaksi lebih mudah, transparan, dan terhubung dengan layanan keuangan formal. Digitalisasi ini penting agar UMKM naik kelas,” tegas Rony.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kepri, Nyangnyang Haris Pratamura menyebut KURMA sebagai agenda strategis tahunan dalam memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah (EKOS) di Kepri.
“KURMA bukan sekadar festival Ramadan, tetapi wadah promosi produk UMKM, penguatan pariwisata halal, edukasi keuangan syariah, hingga pelayanan publik dan pasar murah,” ujarnya.










