Tidak hanya itu, Kantor Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat juga menyiapkan 4.000 ton beras program 15% untuk memperkuat ketersediaan pangan Batam. Namun realisasinya sempat tertunda karena masih menunggu penetapan transporter yang bersedia masuk ke Batam.
Amsakar menyebut, penataan distribusi ini terus dikawal langsung oleh Rizal Ramadhani dari pusat setelah pertemuan dengan Menteri Pertanian.
“Dengan total pasokan 48 ton, ditambah 8 ton, dan kemudian 400 ton yang akan menyusul, saya yakin cadangan beras premium Batam insya Allah aman,” ucapnya optimistis.
Mengacu pada pantauan pemerintah daerah, Amsakar menyatakan bahwa gejolak harga di Batam tidak terjadi pada komoditas beras, melainkan pada barang kebutuhan lain seperti cabai, ayam, dan telur.
“Fluktuasi harga yang tampak hari ini lebih banyak pada cabai, ayam, dan telur. Untuk beras, kita aman,” katanya.
Dalam upaya menjaga stabilitas pasokan pangan, Batam juga memperkuat kerja sama antar daerah. Amsakar mencontohkan dukungan dari Kabupaten Malang yang dinilai sangat proaktif.
“Pak Bupati Malang bahkan memerintahkan jajarannya untuk memperluas area penanaman, termasuk memanfaatkan pot-pot lahan produktif. Ini menjadi contoh bagaimana daerah saling memperkuat,” ujarnya.
Dengan dukungan pemerintah pusat dan sinergi antar daerah, Amsakar memastikan Batam berada dalam kondisi aman menghadapi potensi gejolak harga pangan.
“Kita akan terus kawal distribusi pangan agar masyarakat tetap tenang. Ketersediaan adalah prioritas,” tutupnya.(**)










