Secara nasional, Kepri berada di atas angka IPM nasional, peringkat ketiga terbaik nasional, kemudian menjadi peringkat pertama IPM tertinggi di luar Pulau Jawa.
Capaian ini tidak terlepas dari fokus kebijakan pada Peningkatan kualitas pendidikan, Penguatan layanan kesehatan, serta Pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Tingkat Pengangguran Terbuka: Terkendali dan Cenderung Menurun
Pengendalian pengangguran menjadi prioritas melalui pelatihan vokasi dan pemagangan tenaga kerja dalam negeri, serta penguatan konektivitas dunia usaha dan tenaga kerja.
TPT Kepri periode 2020–2025 memang bersifat fluktuatif. Namun tren terbaru menunjukkan kondisi yang semakin terkendali. Pada Agustus 2025, TPT Kepri tercatat 6,45 persen, menurun dari 6,89 persen sebelumnya—atau turun sekitar 0,4 persen.
Dalam kerangka RPJMD 2025–2030, Pemprov Kepri menargetkan TPT berada pada kisaran 6,06–5,57 persen di akhir periode, dengan proyeksi penurunan bertahap hingga 2030. Hal ini mencerminkan optimisme bahwa pasar tenaga kerja Kepri semakin membaik dan produktif.
Provinsi Kepri dibawah kepemimpinan Ansar-Nyanyang sejak awal menjabat terus berupaya mewujudkan komitmen memperbanyak pendidikan vokasi guna melahirkan SDM Kepulauan Riau yang berkarakter, unggul dan berdaya saing hingga dapat terserap pasar dunia kerja.
Angka Kemiskinan: Terendah di Sumatera, Ke-4 Terendah Nasional
Pengendalian kemiskinan menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan yang inklusif. Pada Maret 2025, jumlah penduduk miskin di Kepri mencapai 117,28 ribu orang (4,44 persen). Berkurang 7,7 ribu orang dibandingkan September 2024 yang sebesar 124,96 ribu orang (4,78 persen).
Secara posisi nasional, Kepri menempati peringkat ke-4 terendah nasional, setelah Bali, Kalimantan Selatan, dan DKI Jakarta, serta menjadi yang terendah di Pulau Sumatera.
Dalam RPJMD 2025–2030, target kondisi akhir kemiskinan berada pada kisaran 3,55–2,26 persen, dengan proyeksi penurunan bertahap hingga 2030. Penurunan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kepri semakin inklusif dan menyentuh masyarakat lapisan bawah.
