Target 1,7 Juta Wisman Batam 2026 Dihadapkan Tantangan Dampak Konflik Global

KABAREKONOMI.CO.ID, Batam – Dampak konflik yang melibatkan Iran mulai memberikan efek berantai terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi sektor pariwisata di kawasan perbatasan seperti Batam yang selama ini sangat bergantung pada pergerakan wisatawan mancanegara dari negara tetangga.

Praktisi pariwisata Kepulauan Riau, Surya Wijaya, menilai bahwa meskipun dampak konflik belum sepenuhnya terasa secara langsung, tanda-tanda tekanan terhadap aktivitas ekonomi sudah mulai muncul dan perlu diantisipasi sejak dini.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, Batam sebagai salah satu pusat ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau memiliki posisi strategis sebagai daerah perbatasan yang ditopang berbagai sektor ekonomi, termasuk industri pariwisata. Kota ini bahkan kerap dijuluki sebagai “Singapura van Riouwarchipel”, karena kedekatannya dengan Singapura serta perannya sebagai gerbang wisata bagi wisatawan mancanegara.

“Perang yang terjadi di Iran perlahan mulai memberikan efek kepada negara kita. Dampak paling terasa tentu pada sektor ekonomi. Sebagai daerah border, Batam sangat sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi global, terutama yang berkaitan dengan mobilitas wisatawan,” ujar Surya saat diskusi bersama awak media pada Rabu (11/3/2026).

Surya menjelaskan bahwa selama bulan Ramadan biasanya memang terjadi penurunan kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam dan wilayah Kepulauan Riau. Wisatawan dari Singapura dan Malaysia umumnya mengurangi aktivitas wisata selama bulan puasa.

Namun di balik fenomena yang dianggap rutin tersebut, Surya melihat adanya sinyal peringatan yang perlu dicermati oleh pemerintah dan pelaku industri pariwisata.

“Penurunan wisman selama Ramadan memang sudah biasa. Tapi di balik kondisi itu ada warning yang tidak kita sadari. Dampak konflik global bisa memicu tekanan ekonomi yang lebih luas, termasuk pada perilaku belanja dan perjalanan masyarakat di negara tetangga,” jelasnya.

Surya menuturkan, saat melakukan kunjungan kerja ke Johor, Malaysia, beberapa waktu lalu, ia melihat situasi yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Biasanya, bazar Ramadan di Malaysia selalu ramai dan menjadi magnet bagi masyarakat yang berburu takjil hingga berbagai kebutuhan Lebaran. Tradisi tersebut bahkan sudah terasa sejak awal Ramadan, ditandai dengan meningkatnya aktivitas belanja, perburuan kue Lebaran, pakaian baru, hingga persiapan mudik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *