Selain praktik budidaya, 20 perempuan tani yang terlibat mendapatkan pelatihan dan pendampingan mengenai penggunaan sensor dan IoT, manajemen usaha, perencanaan produksi, hingga tata kelola agribisnis.
Pendampingan dilakukan mulai dari tahap budidaya hingga pengembangan kegiatan pertanian yang lebih produktif dan efisien. Dengan pendekatan tersebut, perempuan tani tidak hanya ditempatkan sebagai tenaga produksi, tetapi juga didorong untuk memahami proses pengelolaan usaha dan pengambilan keputusan.
Ketua Umum Perempuan Tani HKTI mengatakan, program di Batam menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk mengambil peran dalam transformasi sektor pertanian Indonesia.
“Program ini membuktikan bahwa perempuan tani memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari transformasi pertanian Indonesia. Kami ingin perempuan tidak hanya menjadi pelaku dalam proses produksi, tetapi juga menjadi pengambil keputusan, pengelola usaha, dan inovator dalam agribisnis,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, pemanfaatan teknologi dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mendorong penerapan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
“Yang paling penting, perempuan tani memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan serta kemandirian ekonominya,” katanya.
Program smart farming di Batam juga diarahkan untuk mendukung pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs).
Di antaranya SDG 1 terkait pengentasan kemiskinan, SDG 2 tentang ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan, serta SDG 5 mengenai kesetaraan gender.
