Malaysia menjadi negara yang memberikan kontribusi terbesar terhadap transaksi inbound QRIS ke Kepri. Lokasi geografis yang berdekatan serta tingginya intensitas perjalanan warga Malaysia ke Batam dan Bintan menjadikan QRIS Cross Border sangat cepat diterima pasar.
Sejak implementasi pada 8 Mei 2023, pertumbuhan transaksi berlangsung sangat agresif. Pada 2024, Kepri mencatat lebih dari 30 ribu transaksi inbound dari Malaysia. Angka tersebut kembali melonjak pada 2025, mencapai 149.231 transaksi, atau tumbuh 498% (yoy).
“Dari sisi nilai, nominal transaksi meningkat tajam hingga Rp35,45 miliar, atau 685% (yoy). Kenaikan ini menunjukkan bahwa wisatawan asal Malaysia tidak hanya semakin sering menggunakan QRIS, tetapi juga melakukan transaksi dengan nilai yang semakin besar. Sektor hiburan, perhotelan, pusat perbelanjaan, hingga layanan kesehatan menjadi tujuan pembayaran yang paling dominan,” terangnya.
Bagi pelaku usaha di Kepri, terutama UMKM, tren ini memberikan dampak langsung berupa bertambahnya volume penjualan dan efisiensi transaksi tanpa harus menyediakan mesin EDC atau menerima uang tunai asing.
Singapura termasuk negara terakhir yang mengimplementasikan konektivitas QRIS, yakni pada 17 November 2023. Meski baru berjalan sekitar dua tahun, pertumbuhan transaksi inbound terlihat sangat cepat.
Pada 2025 (sampai November), transaksi QRIS yang masuk dari wisatawan Singapura ke Kepri mencapai 25.735 transaksi, atau melonjak 511% (yoy). Dari sisi nominal, nilai transaksi tercatat Rp18,99 miliar, naik 504% dibanding tahun sebelumnya.
“Sebagai negara dengan kunjungan tertinggi ke Kepri, terutama Batam dan Bintan, penggunaan QRIS oleh wisatawan Singapura menjadi faktor penting dalam mempercepat digitalisasi layanan wisata. Wisatawan kini dapat melakukan pembayaran dengan nilai konversi otomatis, cepat, dan tanpa biaya tambahan yang memberatkan,” tegasnya lagi.
Bank Indonesia menegaskan bahwa pertumbuhan QRIS Cross Border tidak hanya meningkatkan kemudahan wisatawan, tetapi juga membawa dampak positif bagi perekonomian daerah. Arus transaksi yang masuk langsung tercatat dalam sistem pembayaran domestik, sehingga memberikan multiplier effect terhadap:
1. Peningkatan transaksi pelaku UMKM
2. Penguatan ekosistem digital sektor pariwisata
3. Efisiensi biaya operasional pelaku usaha
4. Perluasan akses pembayaran digital hingga ke level pedagang kecil
5. Penguatan penggunaan Rupiah dalam transaksi lintas negara berbasis digital
Selain itu, QRIS Cross Border juga menjadi bagian dari upaya integrasi pembayaran ASEAN, yang memungkinkan masyarakat negara-negara di kawasan untuk bertransaksi lebih mudah dan efisien di berbagai destinasi wisata.
Dengan lonjakan transaksi dari Thailand, Malaysia, dan Singapura yang terjadi secara konsisten, Kepri berpotensi menjadi salah satu pusat ekonomi digital dan pariwisata di Asia Tenggara. Tingginya jumlah kunjungan wisatawan, dukungan infrastruktur digital, serta kesiapan merchant lokal telah menempatkan Kepri sebagai daerah dengan adopsi QRIS Cross Border paling progresif di Indonesia.
“Bank Indonesia memperkirakan bahwa penggunaan QRIS lintas negara akan terus meningkat seiring ekspansi implementasi ke negara lainnya, seperti Jepang, Korea Selatan, dan India. Jika tren ini berlanjut, Kepri dapat meraih potensi transaksi lintas batas yang jauh lebih besar pada 2026 mendatang,” tutupnya. (Iman Suryanto)










