Fary menjelaskan, kepastian regulasi, kecepatan pelayanan, kesiapan infrastruktur, keandalan utilitas, hingga pemerintah yang responsif dalam menyelesaikan persoalan menjadi faktor utama yang membuat Vietnam berhasil memenangkan persaingan investasi global.
Ia juga mengingatkan bahwa Batam sebenarnya lebih dahulu membangun kawasan industri dibandingkan Vietnam. Batamindo Industrial Park berdiri pada 1990, sedangkan VSIP baru dibangun enam tahun kemudian, tepatnya pada 1996.
Namun, Vietnam mampu mentransformasikan VSIP menjadi jaringan kawasan industri di berbagai provinsi yang kini menjadi motor penggerak investasi, ekspor, dan industrialisasi nasional.
“Keunggulan tidak ditentukan oleh siapa yang lebih dulu membangun kawasan industri, tetapi oleh siapa yang lebih cepat membangun ekosistem investasi,” ujarnya.
Paradigma Baru Pengelolaan Aset Negara
Fary menilai selama ini keberhasilan kawasan industri masih sering diukur dari besarnya penerimaan sewa lahan atau hak pengelolaan lahan.
Padahal, menurutnya, nilai ekonomi terbesar justru tercipta ketika investor mulai berproduksi. Aktivitas manufaktur akan mendorong ekspor, meningkatkan pergerakan logistik, menghidupkan pelabuhan dan bandara, membuka lapangan kerja baru, hingga meningkatkan penerimaan negara.
“Lahan tidak lagi menjadi aset pasif, tetapi menjadi mesin pencipta nilai ekonomi,” katanya.
Cara pandang tersebut, lanjut Fary, sejalan dengan konsep PNBP Plus yang sedang dikembangkan BP Batam. Melalui pendekatan ini, aset negara tidak lagi diposisikan hanya sebagai penghasil pendapatan tunggal (single revenue), melainkan mampu menciptakan berbagai sumber penerimaan (multiple revenue), mulai dari base revenue, growth revenue, upside revenue, hingga ownership value.
