Head of Enterprise IT Architecture, Data Management & Service Quality Group PT Bank Central Asia (BCA), Lily Wongso, mengatakan pencadangan data menjadi bagian penting dalam pencegahan sekaligus pemulihan ketika terjadi insiden siber.
BCA juga melakukan exercise tahunan terhadap aplikasi-aplikasi penting, terutama yang berkaitan dengan fungsi bisnis.
Langkah tersebut sejalan dengan POJK 11/2022 dan SEOJK 29/2022 mengenai penyelenggaraan teknologi informasi, tata kelola, serta manajemen risiko siber di sektor perbankan.
Menurut Lily, tidak ada institusi perbankan yang sepenuhnya terbebas dari risiko pelanggaran maupun kebocoran data meskipun telah menerapkan sistem pertahanan berlapis.
Untuk menghadapi risiko tersebut, BCA menerapkan cybersecurity framework NIST yang berfokus pada lima tahapan, yakni identify, protect, detect, respond, dan recover.
“Jadi kalau sampai terjadi sesuatu, kita siap bagaimana merespons dan bagaimana melakukan recovery,” ujar Lily.
SMI Perluas Jaringan Distribusi Digital
SMI berdiri pada awal 2011 sebagai perusahaan patungan Metrodata Electronics dan Synnex Technology International Corp.
Perusahaan menjalankan bisnis distribusi digital melalui dua lini layanan utama, yakni solusi dan distribusi.
SMI memiliki tujuh pusat distribusi yang berada di Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Medan, dan Makassar.
Operasional perusahaan juga didukung pusat logistik serta tenaga penjualan di sejumlah kota besar di Indonesia, termasuk jaringan dealer dan reseller.
Sementara itu, Fastly menyediakan platform edge cloud yang mencakup komputasi tepi, content delivery, keamanan, dan observabilitas.
Melalui kemitraan tersebut, kedua perusahaan menargetkan organisasi di Indonesia dapat memperkuat kinerja sekaligus keamanan layanan digital di tengah semakin cepatnya transformasi digital, adopsi AI, dan penggunaan teknologi cloud.
SUMBER: KOMPAS
