Menurutnya, Zapin merupakan warisan hidup yang diwariskan melalui musik, lagu, dan tarian dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Apa yang membuat inisiatif ini sangat berarti adalah mengenali warisan budaya dan tradisi kita. Ini mengingatkan kita bahwa budaya bisa menjadi sebuah jembatan antara komunitas dan negara,” kata Farzamie.
Dia juga menekankan pentingnya menempatkan pelaku Zapin dalam proses nominasi. Pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman mereka diperlukan agar tradisi tersebut tetap hidup melalui pertunjukan, lokakarya, pertukaran, dan festival budaya.
Sementara itu, perwakilan Singapura Terrence Teo menyatakan dukungan terhadap nominasi tersebut. Menurut dia, komunitas Zapin di Singapura telah menjalankan berbagai kegiatan, termasuk pertunjukan, berbagi pengetahuan dan penelitian, serta membuka ruang dialog dengan masyarakat.
“Singapura sangat bangga menjadi sebahagian dari kolektif ini,” kata Terrence.
Dalam penyusunan nominasi, keempat negara juga melakukan pembagian tugas. Fadli menjelaskan Singapura menyiapkan visi, Malaysia menangani dokumentasi, sedangkan Indonesia berperan dalam komunikasi dengan komunitas.
Nominasi Zapin merupakan salah satu bentuk joint nomination atau multinational nomination yang dilakukan Indonesia bersama negara lain. Skema tersebut digunakan untuk elemen budaya yang memiliki keterkaitan dan berkembang di lebih dari satu negara, seperti pengusulan Kebaya sebelumnya.
Selain Zapin, Fadli menyebut Indonesia tengah mempersiapkan sejumlah pengusulan warisan budaya lain melalui mekanisme bersama, termasuk Aksara Nusantara dan Aksara Jawa dengan negara yang memiliki keterkaitan budaya.
SUMBER: BISNIS INDONESIA
