“Semakin baik foto-foto yang ditampilkan dan semakin banyak cerita masa lalu yang muncul, saya percaya akan semakin banyak generasi terkini yang mengetahui kilas balik perjalanan Batam,” ujar Amsakar.
Menurut Amsakar, pameran fotografi ini memiliki sejumlah tujuan strategis. Salah satunya memberikan ruang kepada masyarakat, khususnya para pegiat fotografi, untuk menyalurkan bakat dan kreativitas melalui karya yang memiliki nilai dokumentasi sejarah.
Di sisi lain, fotografi menjadi media yang efektif untuk merekam perjalanan pembangunan sebuah daerah.
Melalui foto, masyarakat dapat melihat perubahan yang terjadi, memahami tahapan pembangunan, sekaligus mengenali kontribusi berbagai pihak yang telah mengambil bagian dalam membangun Batam.
Dokumentasi visual tersebut juga menyimpan gambaran mengenai arah dan prioritas pembangunan dari waktu ke waktu. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya melihat perubahan fisik kota, tetapi juga dapat memahami proses panjang yang melatarbelakanginya.
Momentum pameran ini sekaligus menjadi refleksi perjalanan BP Batam yang telah memasuki usia 55 tahun.
Amsakar menilai usia tersebut merupakan fase kematangan yang harus dimaknai dengan kontribusi semakin besar bagi pengembangan wilayah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia mengatakan, tata kelola pembangunan yang dijalankan BP Batam sepanjang 2025–2026 telah menunjukkan perkembangan pada sejumlah aspek.
Namun, ia mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius, terutama penguatan pelayanan air bersih dan penanganan persoalan infrastruktur banjir.
Dua persoalan tersebut menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik seiring dengan pesatnya pertumbuhan Batam.












