Menjaga Identitas Melayu
Perjalanan Kepri juga tidak dapat dilepaskan dari akar sejarah dan budaya Melayu. Kawasan Kepulauan Riau memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat perkembangan kebudayaan Melayu. Jejak tersebut antara lain terlihat di Pulau Penyengat dan kawasan Tanjungpinang, serta berbagai peninggalan sejarah yang tersebar di sejumlah wilayah Kepri.
Literatur mengenai sejarah Kepri juga mencatat panjangnya perjalanan kawasan ini sejak masa kerajaan Melayu hingga Kesultanan Riau-Lingga.
Karena itu, pembangunan modern di Kepri berjalan berdampingan dengan upaya mempertahankan identitas budaya.
Pemerintah Provinsi Kepri menggunakan semboyan “Berpancang Amanah, Bersauh Marwah”, yang menjadi bagian dari identitas pembangunan daerah dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Melayu.
Bagi Nyanyang, kemajuan ekonomi dan pembangunan harus berjalan bersama dengan keharmonisan sosial serta pelestarian nilai-nilai budaya yang menjadi bagian dari karakter masyarakat Kepri.
Momentum Hari Jadi ke-24 pun diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat rasa memiliki terhadap provinsi yang terbentuk dari gugusan pulau tersebut.
Pemerintah dan masyarakat diharapkan tidak hanya melihat pembangunan dari sisi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan daerah menghadirkan pemerataan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Membangun Kepri dari Pulau ke Pulau
Dua puluh empat tahun setelah ditetapkan sebagai provinsi, tantangan Kepri tetap memiliki karakter yang khas. Jarak geografis antarpulau, ketergantungan pada konektivitas laut dan udara, serta posisi sejumlah wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga membutuhkan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan.
Pembangunan Kepri ke depan tidak cukup hanya mengandalkan satu atau dua pusat ekonomi. Potensi setiap kabupaten dan kota perlu dikembangkan sesuai karakter wilayah masing-masing.
Batam dengan basis industri dan perdagangan, Bintan dengan pariwisata dan industri, Karimun dengan aktivitas maritim dan industri, Natuna serta Anambas dengan potensi kelautan dan perikanan, Lingga dengan sumber daya alam dan potensi ekonomi berbasis masyarakat, serta Tanjungpinang sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan, merupakan bagian dari mata rantai pembangunan Kepri.
