KABAREKONOMI.co.id, Batam – Pemahaman masyarakat tentang autisme masih sering dipenuhi mitos. Direktur PT Penawar Special Learning sekaligus Ketua Indonesia Autism Summit 2026 (INAS26), Dr. Ruwinah Abdul Karim, menegaskan bahwa autisme tidak semata-mata disebabkan oleh faktor keturunan.
Menurutnya, berdasarkan pengalaman panjang di dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus, hanya sekitar separuh kasus autisme yang memiliki kaitan genetik.
“Sekitar 50 persen memiliki riwayat genetik, sementara 50 persen lainnya tidak. Bahkan banyak orang tua tidak mengetahui asal-usul kondisi tersebut,” ujarnya.
Meski demikian, faktor keturunan tetap dapat meningkatkan risiko. Jika dalam keluarga (seperti kakek atau nenek) memiliki ciri-ciri spektrum autisme, kemungkinan anak mengalami kondisi serupa bisa lebih tinggi. Namun, bukan berarti keluarga tanpa riwayat autisme terbebas dari kemungkinan tersebut.
Dr. Ruwinah menekankan bahwa hingga kini belum ada satu penyebab pasti autisme. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, baik dari sisi biologis maupun lingkungan.
Beberapa faktor yang diduga berkontribusi antara lain kondisi kesehatan orang tua, seperti hipertensi atau diabetes saat kehamilan, serta konsumsi obat tertentu yang dapat memengaruhi perkembangan otak janin.
Kemudian, usia orang tua, terutama di atas 40 tahun, yang memiliki risiko lebih tinggi melahirkan anak dengan kebutuhan khusus.









