Selain itu, tingkat stres ibu selama kehamilan, yang berlebihan dapat berdampak pada perkembangan janin dan paparan zat berbahaya, seperti rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang.
Disisi lain, pola makan tidak sehat, termasuk konsumsi makanan cepat saji dan junk food yang berlebihan.
Selain faktor biologis, penggunaan gadget pada anak usia dini juga menjadi perhatian. Anak yang terlalu lama terpapar layar berisiko mengalami hambatan dalam perkembangan sosial.
“Anak bisa jadi lebih memilih berinteraksi dengan benda daripada manusia. Ini membuat mereka cenderung menyendiri dan kurang berkomunikasi,” jelasnya.
Namun, penting dipahami bahwa penggunaan gadget tidak menyebabkan autisme secara langsung, melainkan dapat memperburuk gejala sosial jika tidak dikontrol.
Dr. Ruwinah juga meluruskan anggapan keliru yang masih berkembang di masyarakat, khususnya di Asia, yang mengaitkan autisme dengan hal-hal mistis.
“Bukan karena pengaruh gaib, tetapi karena sistem saraf otak mereka bekerja berbeda,” tegasnya.
Secara ilmiah, perbedaan tersebut terlihat dari struktur dan fungsi otak. Anak dengan autisme memiliki pola aktivitas otak yang berbeda, termasuk dalam memproses informasi. Hal ini membuat mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami dan merespons sesuatu.
Sebagai contoh, jika anak pada umumnya dapat menghafal dalam waktu singkat, anak dengan autisme bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan lebih. Namun, mereka tetap memiliki kemampuan belajar, terutama ketika berada dalam kondisi siap dan lingkungan yang mendukung.
Autisme bukan penyakit yang harus “disembuhkan”, melainkan kondisi perkembangan yang memerlukan pendekatan khusus. Dukungan keluarga, terapi yang tepat, serta pemahaman masyarakat menjadi kunci agar anak dengan autisme dapat berkembang optimal.
Dengan meningkatnya edukasi dan kesadaran publik, diharapkan stigma terhadap anak dengan autisme dapat berkurang, sekaligus membuka ruang inklusi yang lebih luas bagi mereka di masa depan.(Iman Suryanto)









