KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA — Laju ekspansi sektor manufaktur Indonesia pada September 2026 menguat dan mencatatkan kinerja tertinggi sejak Februari 2026. Kinerja ekspansif tersebut berpeluang bertahan meski secara moderat di tengah berbagai tantangan global.
Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global tercatat sebesar 52,4 pada September 2026 atau berada di zona ekspansi. Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang berada di level kontraksi sebesar 49,8.
Penguatan manufaktur tersebut berlangsung seiring dengan sejumlah indikator perekonomian lainnya. Inflasi tercatat sebesar 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan neraca perdagangan pada bulan sebelumnya mencatatkan surplus sebesar US$3,55 miliar.
Berdasarkan survei terbaru S&P Global, kondisi bisnis sektor manufaktur Indonesia menguat pada September. Produksi dan pesanan baru kembali meningkat, didukung pertumbuhan ekspor, sementara perusahaan mulai menambah tenaga kerja.
Stok input juga kembali ditingkatkan seiring dengan meredanya tekanan biaya. Secara keseluruhan, PMI Manufaktur September menunjukkan perbaikan kondisi bisnis industri pengolahan terkuat sejak Februari 2026.
Pada Februari 2026, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 53,8, naik dari 52,6 pada Januari. Setelah itu, indeks PMI hanya sempat mencapai level 50,2 pada Juli 2026 sebelum kembali terkontraksi pada Agustus.
Direktur Bidang Ekonomi S&P Global Market Intelligence Trevor Balchin mengatakan permintaan terhadap produk Indonesia menguat pada September. Volume pesanan baru meningkat pada laju tercepat sejak Februari.
“Permintaan terhadap barang Indonesia menguat pada bulan September, dengan volume pesanan baru meningkat pada laju tercepat sejak bulan Februari. Peningkatan pesanan baru mencerminkan kenaikan permintaan dan dimulainya proyek-proyek baru,” kata Balchin melalui rilis pers, Kamis (1/10/2026).
Peningkatan pesanan baru tersebut turut mendorong kenaikan ekspor. Ekspor kembali tumbuh selama dua bulan berturut-turut dengan laju pertumbuhan terkuat sejak Mei 2022.
Pemulihan permintaan juga mendorong peningkatan produksi manufaktur setelah mengalami penurunan tipis pada Juli. Produksi meningkat pada laju tercepat sejak Februari, didukung permintaan pelanggan, proyek baru, peningkatan daya beli, serta perluasan jenis produk.
Dari sisi tenaga kerja, jumlah pekerja meningkat pada September untuk mendukung bertambahnya beban kerja. Kondisi tersebut menjadi kali ketiga penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur sepanjang 2026, dengan laju pertumbuhan tenaga kerja tercepat sejak Februari 2025.
Namun, peningkatan kapasitas tersebut belum sepenuhnya menghilangkan tekanan pekerjaan. Tunggakan pekerjaan meningkat pada laju terkuat dalam lima tahun. Produsen juga mengurangi inventaris barang jadi pada laju tercepat sejak Agustus 2020.











