PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansif, Naik ke Level 52,4 pada September 2026

Ekspansi Diperkirakan Moderat

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Irman Faiz menilai perbaikan PMI Manufaktur Indonesia pada September 2026 merupakan sinyal positif. Namun, sebagian penguatan tersebut juga merupakan normalisasi setelah aktivitas pada Agustus relatif lemah.

Menurut Irman, PMI masih berpeluang bertahan di zona ekspansi, meskipun belum tentu terus meningkat dari level 52,4.

Bacaan Lainnya

Peningkatan pesanan dan aktivitas produksi akan mendorong kebutuhan restocking bahan baku. Sementara itu, investasi swasta dan realisasi proyek prioritas nasional diperkirakan menopang permintaan barang modal.

Meski demikian, Irman menilai PMI September belum menunjukkan bahwa seluruh subsektor manufaktur telah pulih secara merata. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian pada September masih berada di level 51,93, sementara delapan dari 23 subsektor masih berada di zona kontraksi.

Selain itu, kenaikan harga energi, biaya logistik, dan volatilitas rupiah berpotensi meningkatkan biaya input, khususnya bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor.

“Jadi, menurut kami momentum manufaktur memang membaik dan berpotensi berlanjut, tetapi kekuatannya masih belum merata dan akan sangat bergantung pada keberlanjutan pesanan serta kemampuan industri menyerap kenaikan biaya produksi,” kata Irman.

Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet juga menilai kenaikan PMI September belum cukup untuk memastikan terbentuknya tren baru.

Menurut Yusuf, PMI sepanjang tahun masih berfluktuasi dan produksi sempat mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan September juga dinilai sebagian merupakan pantulan dari basis yang rendah.

“Tren baru lebih meyakinkan jika PMI bertahan di atas 50 selama dua hingga tiga bulan,” ujarnya.

Meski demikian, Yusuf melihat peluang PMI bertahan di zona ekspansi tetap terbuka. Salah satu indikator pendukungnya adalah pertumbuhan kredit investasi pada Agustus 2026 yang mencapai 23,4% dan kredit modal kerja sebesar 12,3%.

Katalis lainnya dapat berasal dari peningkatan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru serta stimulus kuartal IV/2026 yang berpotensi menopang produksi.

Namun, risiko perlambatan permintaan regional dan ketegangan di Timur Tengah masih menjadi tantangan. Kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah juga berpotensi membuat bahan baku impor semakin mahal.

“Skenario dasar saya, PMI kuartal IV berada di kisaran 50 sampai 52, tetap ekspansif tetapi moderat,” pungkas Yusuf.

SUMBER: BISNIS INDONESIA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *