KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mewaspadai sejumlah faktor yang berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap inflasi pada Oktober 2026. Pergerakan harga emas dunia dan komoditas hortikultura, khususnya cabai, menjadi perhatian utama.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Rony Widijarto P, mengatakan volatilitas harga emas dunia masih tinggi di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed serta dinamika geopolitik global.
“Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan harga dan tekanan inflasi,” kata Rony.
Selain harga emas, BI Kepri juga mencermati potensi imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor. Tekanan tersebut dapat merambat ke harga barang di dalam negeri apabila terjadi perubahan harga komoditas maupun nilai tukar.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah perkembangan harga komoditas hortikultura. Cabai merah dan cabai rawit dinilai perlu diantisipasi karena pergerakan harganya sangat dipengaruhi kondisi produksi dan pasokan dari daerah sentra.
Menurut Rony, pengendalian inflasi tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga membutuhkan koordinasi pemerintah daerah, BI, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan.
BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kepri terus memperkuat berbagai langkah untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan.











