KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pariwisata mendorong pengembangan Camino de Flores sebagai pola perjalanan wisata baru untuk mendukung pemulihan ekonomi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pascagempa bumi. Program ini dirancang untuk memperluas persebaran kunjungan wisatawan sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat lokal.
Melalui program Camino de Flores: A Spiritual Journey of Reflection and Recovery, pemerintah ingin menghubungkan berbagai daya tarik wisata di Pulau Flores, mulai dari situs religi, desa wisata, lanskap alam, hingga tradisi dan ritual budaya setempat.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, Camino de Flores menjadi langkah strategis untuk mengurangi konsentrasi kunjungan wisatawan yang selama ini terpusat di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo.
“Camino de Flores hadir sebagai bentuk pola perjalanan (travel pattern) baru yang strategis, mengingat kunjungan wisatawan selama ini cenderung terkonsentrasi di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo. Melalui Camino de Flores, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores dengan menghubungkan berbagai potensi, mulai dari situs religi, desa wisata, hingga lanskap alam serta event atau ritual pariwisata religi yang selama ini berkembang di Flores seperti Semana Santa, Festival Golokoe, ziarah, atau prosesi budaya lainnya,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (14/10/2026).
Camino de Flores Dimulai dari Rute Bajawa–Ende
Camino de Flores merupakan kegiatan wisata jalan kaki atau Flores Walk yang menyasar segmen khusus (niche market), seperti komunitas peziarah (faith-based community) dan wisatawan yang mencari ketenangan melalui mindfulness tourism.
Pada tahap awal, Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menetapkan 23–27 Oktober 2026 sebagai pelaksanaan proyek percontohan (pilot project) Etape Tengah.
Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif akan menyusuri rute Bajawa–Boawae–Ende sepanjang sekitar 70 kilometer. Perjalanan ini memadukan refleksi spiritual, penelusuran sejarah, dan interaksi langsung dengan masyarakat setempat.
Ke depan, pengembangan Camino de Flores juga direncanakan mencakup Etape Barat dengan rute Labuan Bajo–Ruteng serta Etape Timur melalui rute Maumere–Larantuka. Seluruh etape bahkan berpeluang digabungkan sesuai permintaan wisatawan.
Widiyanti menegaskan bahwa proyek percontohan tersebut tidak hanya bertujuan mempromosikan destinasi, tetapi juga menjadi sarana evaluasi untuk mengukur kesiapan teknis, operasional, kelembagaan, serta tingkat partisipasi para pihak dan masyarakat.
“Kemenpar melalui Kedeputian Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur bersama BPOLBF telah menyusun dokumen Risk Assessment dan Emergency Response Plan yang detail. Kami memastikan kesiapan infrastruktur keselamatan dan keamanan, mulai dari penyiagaan road marshal, pos kesehatan, water station mobile, hingga mitigasi cuaca dan elevasi rute yang menantang,” tegasnya.
Hasil Penggalangan Dana untuk Masyarakat Flores
Selain mengembangkan pariwisata, Camino de Flores juga mengintegrasikan kegiatan sosial dan penggalangan kepedulian bagi masyarakat Flores.
Dana yang dihimpun direncanakan untuk mendukung renovasi rumah sakit, gereja, serta sarana budaya dan pariwisata, termasuk penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih.
Widiyanti mengapresiasi inisiatif Mari Elka Pangestu bersama tim yang menghadirkan Camino de Flores sebagai pengalaman wisata yang memadukan keindahan alam dengan spiritualitas, budaya, sejarah, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
“Perjalanan ini tidak sekadar menawarkan keindahan alam, tetapi mengintegrasikan spiritualitas, budaya, sejarah, dan keterlibatan masyarakat lokal dalam satu pengalaman yang bermakna,” kata Widiyanti.











