Camino de Flores Hadir, Kemenpar Dorong Pemerataan Wisata di Nusa Tenggara Timur

Terinspirasi Rute Ziarah Camino de Santiago di Spanyol

Mari Elka Pangestu menjelaskan bahwa Camino de Flores terinspirasi dari Camino de Santiago de Compostela di Spanyol. Rute ziarah tersebut memiliki sejarah panjang sejak penemuan makam Rasul Santo Yakobus di Galicia pada 813 Masehi.

Saat ini, Camino de Santiago menjadi salah satu rute ziarah utama dunia yang diakui UNESCO dan Dewan Eropa. Pada 2024–2025, jumlah peziarahnya dilaporkan mencapai rekor hampir 500.000–530.000 orang setiap tahun dari lebih dari 160 negara.

Bacaan Lainnya

Camino de Flores mengadaptasi semangat perjalanan tersebut ke Flores, NTT, melalui konsep walking pilgrimage berkelanjutan yang memadukan iman, alam, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Untuk memastikan keberlanjutan jalur ziarah ini, Kementerian Pariwisata juga mendorong pembentukan tata kelola lintas wilayah. Kolaborasi tersebut direncanakan melibatkan Kementerian Pariwisata, BPOLBF, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Ngada, Nagekeo dan Ende, keuskupan se-Flores, serta komunitas lokal melalui mekanisme kerja sama atau nota kesepahaman (MoU).

Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM dan Perajin Tenun

Pengembangan Camino de Flores diharapkan dapat mendorong wisatawan tinggal lebih lama (length of stay) sehingga perputaran ekonomi meningkat di desa-desa yang dilalui.

Jalur wisata ini berpotensi membuka peluang usaha bagi pengelola homestay, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin tenun, serta pemandu wisata lokal.

Wisatawan juga akan memperoleh kesempatan untuk mengenal identitas dan kehidupan masyarakat Flores melalui tradisi tenun ikat, kekayaan kuliner lokal, serta nilai religius dan spiritual yang melekat dalam keseharian masyarakat.

Kain tenun tidak hanya merepresentasikan identitas budaya dan nilai adat, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga, terutama perempuan penenun. Sementara itu, kuliner lokal menyimpan pengetahuan dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Perpaduan pengalaman spiritual, budaya, kuliner, dan interaksi langsung dengan masyarakat diharapkan menjadikan Camino de Flores lebih dari sekadar perjalanan wisata, sekaligus memperluas manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat setempat.

Widiyanti mengatakan evaluasi proyek percontohan akan menghasilkan peta rute final, standar kelayakan, dan profil risiko sebagai landasan pengembangan Camino de Flores menjadi paket wisata berkelanjutan.

Paket tersebut selanjutnya akan diperkenalkan kepada mitra industri pariwisata agar dapat dipasarkan oleh agen perjalanan dan operator tur, terutama untuk segmen wisata berbasis mindfulness tourism.

“Kami berharap Camino de Flores menjadi magnet baru yang berkualitas di Kawasan Timur Indonesia,” pungkas Widiyanti.

SUMBER: BISNIS INDONESIA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *