KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM – Pengembangan industri perikanan terintegrasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dinilai memiliki prospek ekonomi yang sangat besar. Berdasarkan estimasi terbaru, total potensi ekonomi dari sektor pakan, pembenihan (hatchery), serta logistik dan cold chain diperkirakan mencapai Rp8,79 triliun per tahun.
Ketua Osman Hasyim, ALMI Batam menilai peluang tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Kepulauan Riau sebagai pusat ekonomi biru nasional.
Sektor pakan berbasis tepung ikan menjadi salah satu tulang punggung hilirisasi perikanan di Kepri. Dari limbah hasil pengolahan ikan yang mencapai sekitar 330 ribu ton, sekitar 60% dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung ikan.
Dengan rendemen produksi 25%, potensi produksi tepung ikan mencapai 49.500 ton per tahun. Dengan harga lokal sekitar Rp15.000 per kilogram, nilai ekonomi sektor ini diproyeksikan mencapai Rp742,5 miliar per tahun.
Menurut Osman, pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah akan mendorong efisiensi industri sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Selain pakan, sektor hatchery atau pembenihan juga menunjukkan prospek cerah. Komoditas unggulan seperti kerapu dan lobster memiliki permintaan tinggi di pasar ekspor.
Harga benih kerapu ukuran 10 cm berkisar Rp10.000–Rp15.000 per ekor, sedangkan benih lobster (BBL) Rp10.000–Rp20.000 per ekor. Nilai industri pembenihan diproyeksikan Rp200–Rp500 miliar per tahun, dengan rata-rata Rp350 miliar.
