“Investasi harus kita arahkan agar menghasilkan lapangan kerja yang semakin berkualitas dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal,” kata Fary.
Selain pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, BP Batam juga menyoroti sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat.
Tingkat kemiskinan Batam tercatat turun dari 4,85 persen pada 2024 menjadi 3,81 persen pada 2025. Artinya, terjadi penurunan sebesar 1,04 poin persentase dalam satu tahun.
Penurunan juga terjadi pada tingkat pengangguran terbuka (TPT). Dari 8,14 persen pada 2023, angka tersebut turun menjadi 7,68 persen pada 2024 dan kembali menurun menjadi 7,57 persen pada 2025.
Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam meningkat dari 83,32 menjadi 83,80 pada 2025 atau naik 0,48 poin.
Peningkatan IPM tersebut mencerminkan kemajuan dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat.
Meski berbagai indikator menunjukkan perkembangan positif, Fary mengakui pemerataan manfaat pertumbuhan ekonomi masih menjadi tantangan yang harus dijawab bersama.
Menurutnya, pertumbuhan investasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat agar dampak pembangunan dapat dirasakan lebih merata.
Semangat menghadirkan investasi yang berdampak luas tersebut menjadi salah satu landasan penyelenggaraan Anugerah Investasi 2026.
Fary menjelaskan, BP Batam tidak hanya memberikan penghargaan berdasarkan besaran nilai investasi, tetapi juga mempertimbangkan kontribusi perusahaan terhadap lingkungan, masyarakat, serta pengembangan kemitraan dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pendekatan tersebut menjadi penegasan bahwa investasi berkualitas bukan sekadar investasi dengan nilai modal besar, melainkan investasi yang mampu tumbuh bersama masyarakat.












