Langkah ini diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan kredit sekaligus memperkuat daya tahan sektor riil di tengah tekanan eksternal.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI melanjutkan strategi intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.
Di sisi lain, strategi operasi moneter pro-market diperkuat guna menarik aliran masuk investasi portofolio asing, sembari menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.
Tak hanya moneter, BI juga memperkuat bauran kebijakan sistem pembayaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pengembangan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) terus didorong melalui kolaborasi lintas kementerian dan asosiasi, termasuk penyelenggaraan hackathon serta program Digital Talenta Berdaya dan Berkarya (Digdaya) yang dimulai akhir Februari 2026.
Menghadapi periode Hari Besar Keagamaan Nasional Idul Fitri 1447 H, BI memastikan kesiapan sistem pembayaran nasional dan ketersediaan uang Rupiah melalui program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026.
Koordinasi dengan Pemerintah terus diperkuat, terutama dalam menyelaraskan kebijakan moneter dan fiskal guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Sinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga diperkuat untuk mendukung pembiayaan program prioritas nasional, termasuk Asta Cita Pemerintah.
Di tingkat global, BI memperluas kerja sama internasional dalam konektivitas sistem pembayaran dan transaksi mata uang lokal, serta fasilitasi promosi investasi dan perdagangan sektor prioritas.
Dengan bauran kebijakan tersebut, BI optimistis stabilitas ekonomi makro tetap terjaga, inflasi terkendali, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat bergerak lebih kuat di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan. (***)










