BP Batam Siapkan 18,1 Hektare Lahan, Pembangunan Sekolah Rempang Capai Rp158 Miliar

KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM — Pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di kawasan Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau, diproyeksikan membutuhkan anggaran sekitar Rp150 miliar hingga Rp158 miliar. Pendanaan pembangunan sekolah tersebut sepenuhnya berasal dari kontribusi para pelaku usaha, sementara BP Batam menyiapkan lahan sekitar 18,1 hektare.

Peletakan batu pertama pembangunan sekolah dilakukan di kawasan Rempang, Kamis (24/9/2026), sebagai bagian dari upaya menghadirkan fasilitas pendidikan terpadu dengan konsep boarding school dan standar internasional.

Bacaan Lainnya

Wali Kota Batam yang juga Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan pembangunan sekolah tersebut merupakan tindak lanjut dari perencanaan yang telah dilakukan pemerintah bersama para pemangku kepentingan dan pelaku usaha.

“Angka yang diperlukan untuk pembangunan ini gambaran sederhananya sekitar Rp158 miliar, plus minus. Kita pakai bahasa Rp150 miliar lebih,” kata Amsakar.

Menurut dia, kebutuhan anggaran tersebut murni akan dibiayai oleh pelaku usaha yang berkolaborasi dalam pembangunan sekolah. Sementara kontribusi BP Batam diberikan dalam bentuk penyediaan lahan dengan luas kurang lebih 18,1 hektare.

Amsakar menyebut komitmen awal dari kalangan pelaku usaha juga telah terlihat. Dalam waktu kurang dari dua jam sejak proses penggalangan komitmen dilakukan, dana yang dijanjikan telah mendekati Rp60 miliar.

“Start awalnya hampir Rp60 miliar,” ujarnya.

Besarnya dukungan tersebut, kata Amsakar, menunjukkan bahwa pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih tidak hanya menjadi proyek pembangunan infrastruktur pendidikan, tetapi juga mencerminkan pola kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha.

“Keunggulannya bukan hanya terletak pada SDM yang akan kita hasilkan. Keunggulannya juga terletak pada kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat,” katanya.

Dibangun Terintegrasi dari SD hingga SMA

Sekolah tersebut dirancang menjadi satu kawasan pendidikan yang mencakup jenjang SD, SMP hingga SMA. Konsep pendidikan yang digunakan adalah sistem asrama atau boarding school, termasuk penyediaan fasilitas bagi tenaga pendidik.

Amsakar mengatakan fasilitas yang disiapkan akan diarahkan memenuhi standar internasional. Harapannya, sekolah tersebut dapat menjadi wadah untuk mencetak generasi muda dengan kemampuan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

“Ini dimaksudkan agar ke depan melalui sekolah ini lahir mutiara-mutiara muda yang dapat menyinari tidak hanya Batam, tapi bagi Kepri dan bagi Indonesia,” ujarnya.

Ia menilai investasi pada pendidikan merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Sekolah yang dirancang dengan dukungan tenaga profesional, metode pembelajaran serta fasilitas berstandar internasional diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi untuk menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi global.

Selain pembangunan gedung sekolah dan asrama, kebutuhan infrastruktur pendukung juga menjadi perhatian. Amsakar mengatakan fasilitas internet akan dipastikan tersedia ketika sekolah mulai beroperasi.

Menurut dia, konektivitas digital menjadi kebutuhan utama dalam sistem pendidikan saat ini, seiring semakin cepatnya perkembangan teknologi informasi.

“Tidak mungkin lagi belajar dengan cara-cara konvensional. Harus melakukan adaptasi dengan percepatan perkembangan teknologi informasi,” katanya.

Pos terkait