Mereka diproyeksikan menjadi tenaga lokal yang ikut memastikan pembangkit dan berbagai kegiatan usaha berbasis energi dapat berjalan.
“Enam anak muda asli Sembur ini sudah dilatih berminggu-minggu oleh PNRE sehingga mereka bisa mengoperasikan PLTS. Mereka juga kita sertifikasi di Kementerian ESDM,” ujar Panel.
Model tersebut membuat pembangunan infrastruktur energi memiliki dimensi ekonomi yang lebih luas.
Masyarakat lokal tidak hanya menjadi pengguna listrik, tetapi juga memperoleh keterampilan untuk mengoperasikan fasilitas yang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru.
Pengembangan PLTS Semburlaut juga mulai diarahkan ke sektor transportasi. PNRE mendorong pemanfaatan listrik untuk perahu listrik atau boat electric vehicle (EV). Gagasan tersebut memiliki konteks yang kuat bagi masyarakat kepulauan.
Mobilitas warga di Semburlaut tidak hanya berlangsung melalui jalan darat. Laut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak yang harus menyeberang ke wilayah Galang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.
Dengan tersedianya sumber listrik untuk pengisian baterai, perahu listrik diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif transportasi antarpulau yang lebih terjangkau sekaligus memanfaatkan energi yang diproduksi secara lokal.
Dengan demikian, listrik dari matahari tidak hanya menghidupkan fasilitas ekonomi, tetapi juga berpotensi menggerakkan mobilitas masyarakat.
Keberlanjutan pengelolaan PLTS menjadi perhatian pemerintah setelah pembangkit mulai beroperasi. Perwakilan Kementerian ESDM, Toni, mengatakan penguatan kompetensi operator menjadi salah satu faktor penting agar pembangkit dapat dikelola secara berkelanjutan.
Pada saat yang sama, pengelolaan bisnis kelistrikan tetap harus mengikuti ketentuan dan regulasi yang berlaku, termasuk aspek ketenagakerjaan serta mekanisme jual beli listrik.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong agar keberadaan listrik diikuti penguatan konektivitas digital di kawasan tersebut.
Perwakilan Komdigi, Wayan Toni, mengatakan konektivitas dapat digunakan untuk mendukung digitalisasi koperasi, mulai dari distribusi, pencatatan dan pendataan hingga transaksi.
Pada akhirnya, PLTS Semburlaut tidak berdiri sebagai proyek energi yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Pembangkit itu menjadi titik awal dari sebuah ekosistem yang menghubungkan energi terbarukan dengan koperasi, perikanan, UMKM, transportasi, konektivitas digital dan peningkatan keterampilan masyarakat.










