Di sinilah peran kelompok seperti kelompok KWT Kampung Tani Berdikari, Nongsa, Batam menjadi penting. Apa yang mereka lakukan bukan sekadar berkebun, tetapi menciptakan ketahanan pangan skala mikro yang dalam jangka panjang bisa membantu meredam gejolak harga.
Awalnya hanya untuk konsumsi sendiri. Kini mulai bergerak ke arah ekonomi produktif. Mereka mencoba komoditas lain seperti pokcai, meski hasil awalnya baru sekitar 3 kilogram. Namun arah geraknya jelas: produksi berkelanjutan.
Di banyak daerah, model seperti ini dikenal sebagai strategi urban farming, yang mampu mengurangi ketergantungan pasokan luar, menekan biaya konsumsi rumah tangga, serta menciptakan tambahan pendapatan.
Dalam konteks Kepri, yang merupakan wilayah kepulauan dengan biaya logistik tinggi, langkah ini menjadi semakin strategis.
Di balik perjalanan ini, ada peran penting dari Pertamina Patra Niaga. Bantuan yang diberikan bukan sekadar simbolis. Peralatan, pelatihan, hingga pendampingan menjadi fondasi awal kelompok ini bertahan.
“Kalau tidak ada Pertamina, mungkin kami tidak bisa sampai di sini,” ujar Marsih, pengurus kelompok KWT Kampung Tani Berdikari, Nongsa, Batam menimpali.
Dukungan ini mencerminkan pergeseran peran korporasi dari sekadar bisnis energi menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan ekonomi lokal.
Di tengah angka inflasi, grafik ekonomi, dan laporan statistik, kisah 18 ibu ini menghadirkan wajah lain dari ekonomi yang hidup, yang nyata, dan yang tumbuh dari bawah. Mereka mungkin tidak berbicara tentang indeks harga konsumen.
