Dongkrak Ekonomi Nasional, Pemerintah Genjot Utilisasi Industri dan Substitusi Impor Rp400 Triliun

Sarmuji mengingatkan agar pengembangan industri tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah atau produk setengah jadi, tetapi harus berlanjut hingga menghasilkan barang jadi.

Salah satu contohnya adalah pengembangan industri nikel yang dapat membentuk rantai produksi terintegrasi, mulai dari pengolahan bijih, produk antara, komponen baterai hingga kendaraan listrik.

Bacaan Lainnya

Pengembangan tersebut diharapkan turut mendorong tumbuhnya industri pendukung, permesinan, logistik, dan berbagai sektor jasa.

Pemerintah juga melihat potensi besar pengembangan industri berbasis sumber daya alam Indonesia, seperti kelapa sawit, kelapa, rumput laut, sagu, dan keanekaragaman hayati.

Rumput laut, misalnya, berpotensi diolah menjadi bahan baku kosmetik, farmasi, serta industri makanan dan minuman. Sementara itu, pengembangan kawasan industri berbasis sagu direncanakan di Kabupaten Seram Bagian Timur.

Saat ini Indonesia memiliki 181 kawasan industri dengan tingkat utilisasi sekitar 57,20 persen. Artinya, masih terdapat ruang untuk mengoptimalkan kawasan industri yang telah tersedia.

Untuk mempercepat pertumbuhan industri, pemerintah menyiapkan berbagai dukungan fiskal dan nonfiskal.

Insentif fiskal antara lain tax holiday, tax allowance, super deduction tax, serta fasilitas pembebasan bea masuk untuk barang modal dan bahan baku sesuai ketentuan.

Sementara dukungan nonfiskal meliputi penyediaan gas industri dengan harga tertentu, penyederhanaan perizinan berbasis risiko, serta program restrukturisasi mesin dan peralatan.

Pos terkait