3. Pengembangan Produk dan Partisipasi Pasar
Variasi kontrak derivatif akan diperluas, baik yang diperdagangkan di bursa maupun over-the-counter terstandarisasi. Partisipasi investor institusi juga akan didorong guna meningkatkan likuiditas pasar.
4. Efisiensi Infrastruktur Pasar
Penguatan lembaga bursa dan kliring diarahkan agar memenuhi standar internasional IOSCO/PFMI, termasuk pengembangan kerangka pengelolaan agunan lintas aset.
Di sisi lain, roadmap pasar modal berkelanjutan menegaskan peran pasar modal sebagai motor pendanaan berbasis prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).
Empat pilar pengembangannya meliputI, penguatan regulasi dan kebijakan dasar pasar modal berkelanjutan, percepatan diversifikasi produk dan aktivitas investasi ESG, peningkatan partisipasi pelaku pasar melalui insentif dan dukungan kebijakan dan kolaborasi domestik dan internasional untuk pengembangan ekosistem berkelanjutan.
Hingga Desember 2025, akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk berkelanjutan telah mencapai Rp74,14 triliun. Komposisinya didominasi tema lingkungan (42,72%), sosial (28,82%), keberlanjutan (26,44%), serta sustainability-linked (2,02%). Ke depan, nilai penerbitan diproyeksikan tumbuh rata-rata 55,11% per tahun.
Sementara itu, produk reksa dana berbasis ESG telah mencatat AUM sebesar Rp9,98 triliun, dengan proyeksi pertumbuhan 14,36% per tahun. Beberapa indeks ESG yang menjadi acuan investor antara lain SRI-KEHATI, IDX ESG Leaders, hingga IDX LQ45 Low Carbon Leaders.
Sinergi Lintas Lembaga dan Mitra Global
Penyusunan roadmap ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian, SRO, asosiasi industri keuangan, serta mitra pembangunan internasional seperti Asian Development Bank.
OJK berharap kedua roadmap tersebut menciptakan sinergi kuat antara pengembangan instrumen keuangan, peningkatan perlindungan investor, serta penguatan pendanaan berkelanjutan demi mendukung transformasi ekonomi Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau dan tangguh. (***)










