E20 Segera Diterapkan? Pertamina Ungkap Kendala Pasokan Bioetanol dan SPBU

KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) masih mematangkan kesiapan ekosistem energi terbarukan sebelum menerapkan pencampuran bioetanol 20% dengan bensin atau E20 secara lebih luas.

Kesiapan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari ketersediaan pasokan bioetanol fuel grade, fasilitas blending, infrastruktur terminal bahan bakar minyak (BBM), hingga kemampuan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dalam menerima dan menyalurkan bahan bakar dengan kandungan bioetanol lebih tinggi.

Bacaan Lainnya

SVP Strategy and Business Development Pertamina, Ary Kurniawan mengatakan, Pertamina saat ini telah menjalankan penyaluran Pertamax Green 95 (PG95) yang merupakan campuran Pertamax RON 92 dengan etanol 5%.

Program tersebut telah berjalan di wilayah Jawa, khususnya Jakarta dan Surabaya. Namun, skala penyalurannya masih terbatas dan belum dilakukan secara masif di seluruh jaringan SPBU.

“Jadi kalau terkait dengan E20 ya, kalau untuk E20 memang saya sudah mencatat bahwa di Pertamina sendiri sebenarnya kita ada program PG95, yaitu Pertamax Green 95, itu kita sudah mulai di wilayah Jawa untuk di Jakarta dan di Surabaya. Kita sudah menyalurkan sekitar 27.000 KL untuk 184 SPBU, memang programnya belum masif,” ujar Ary dalam IndoEBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Pasokan Bioetanol Jadi Tantangan E20

Ary menjelaskan, penerapan E20 membutuhkan kesiapan ekosistem secara menyeluruh, sebagaimana pengembangan program biodiesel di Indonesia.

Salah satu tantangan utama berada pada sisi pasokan. Kapasitas produksi bioetanol fuel grade di dalam negeri saat ini dinilai belum mencukupi apabila program pencampuran bioetanol diperluas.

Menurut Ary, program Kementerian ESDM untuk 2026 dan 2027 direncanakan menerapkan E5 di wilayah Jawa dan Bali untuk segmen non-PSO.

Kebutuhan bensin untuk program tersebut diperkirakan mencapai sekitar 3 juta hingga 4 juta kiloliter (KL). Dengan demikian, kebutuhan bioetanol untuk penerapan E5 diperkirakan berada di kisaran 150.000-200.000 KL.

Sementara itu, kapasitas pasokan bioetanol domestik saat ini baru sekitar 60.000-80.000 KL.

“Sehingga ini memang perlu digalakkan untuk program pengembangan bioetanol di dalam negeri. Karena kita masih punya molase, kita ekspor mungkin sekitar 600-800 ribu ton yang bisa kita manfaatkan untuk menjadi bioetanol bisa sampai 150-200 ribu KL juga,” jelas Ary.

Pertamina juga mulai mengembangkan kapasitas produksi bioetanol. Melalui Pertamina Power Indonesia, perusahaan tengah mengembangkan kilang bioetanol di Glenmore dengan kapasitas 30.000 KL.

“Jadi dari sisi supply itu penting,” tegasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *