Kepri Buka Akses Ekspor Sumatera ke Pasar Global
Tak hanya investasi, kedekatan Kepri dengan Singapura dan Malaysia juga dinilai membuka peluang besar bagi komoditas dari berbagai daerah di Sumatera untuk menembus pasar internasional.
Ansar mencontohkan ekspor sayuran hidroponik dari Kepri ke Singapura yang pada tahun sebelumnya mencapai lebih dari 5.000 ton.
Kepri juga mulai mengembangkan ekspor ayam hidup untuk memenuhi kebutuhan pasar Singapura. Pada tahun lalu, sekitar 212 ribu ekor ayam hidup telah dikirim ke negara tersebut.
“Ini peluang yang masih kecil. Kami terus berkomunikasi dengan Food Security Singapura,” kata Ansar.
Menurut dia, peluang tersebut seharusnya tidak hanya dimanfaatkan Kepri. Provinsi lain di Sumatera juga dapat mengoptimalkan akses pasar Singapura dan Malaysia melalui penguatan rantai pasok serta pemanfaatan fasilitas ekspor yang tersedia di Batam.
Ansar menyebut Kementerian Perdagangan juga telah menghadirkan fasilitas Hub Export di Batam yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses produk daerah ke pasar internasional.
Minta Dukungan Perluasan FTZ Batam-Bintan-Karimun
Dalam forum DPD RI tersebut, Ansar secara khusus meminta dukungan terhadap pengembangan kawasan FTZ yang mencakup Batam, Bintan dan Karimun.
Menurutnya, pengelolaan FTZ yang lebih menyeluruh dibutuhkan untuk memberikan kepastian hukum dan perlakuan yang lebih seragam bagi investor, terutama di kawasan perbatasan.
“Kalau mereka berinvestasi di kawasan perbatasan, kawasan FTZ dan non-FTZ, perlakuannya berbeda. Sehingga mereka bingung, kenapa di satu wilayah ada perlakuan yang berbeda,” jelasnya.
Ia menilai harmonisasi pengelolaan kawasan perdagangan bebas juga akan membuat pengawasan lebih mudah sekaligus meningkatkan daya tarik Kepri di mata investor.
Bidik Potensi Pelabuhan dan Ekonomi Maritim
Potensi lain yang menjadi perhatian Ansar adalah sektor kemaritiman, khususnya aktivitas pelabuhan dan anchorage.
