Fast Fashion dan Limbah Tekstil Jadi Tantangan Batam
Sementara itu, Yogi Eka Sahputra menilai persoalan yang diangkat dalam film Menolak Punah sangat relevan dengan kondisi Batam sebagai kota industri dan perdagangan.
Menurutnya, Batam menjadi salah satu pintu masuk berbagai barang konsumsi, termasuk pakaian. Selain produk legal, persoalan masuknya pakaian ilegal juga menjadi perhatian karena berpotensi menambah beban limbah tekstil.
“Kita juga sering liputan soal masuknya pakaian ilegal ke Batam, jadi Batam tidak hanya tempat impor pakaian legal tetapi juga ilegal, itu tentu akan menambah beban sampah tekstil di kota ini,” katanya.
Yogi juga menyoroti perkembangan praktik thrifting atau jual beli pakaian bekas di Batam. Menurutnya, penggunaan kembali pakaian dapat menjadi salah satu solusi untuk memperpanjang usia produk dan mengurangi konsumsi pakaian baru.
Namun, ia mempertanyakan pengelolaan pakaian bekas yang sudah tidak layak digunakan.
“Thrifting bisa menjadi salah satu solusi menuju slow fashion. Tetapi pertanyaannya, bagaimana dengan pakaian yang tidak layak pakai? Ke mana akhirnya limbah itu pergi?” ujarnya.
Yogi juga mengingatkan bahwa persoalan mikroplastik bukan ancaman yang jauh dari kehidupan masyarakat Batam. Partikel tersebut berpotensi masuk ke lingkungan perairan melalui aktivitas pencucian pakaian berbahan sintetis maupun pengelolaan sampah tekstil yang tidak optimal.
Ia menilai keberadaan sampah tekstil di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Punggur juga perlu menjadi perhatian karena sampah tersebut berpotensi menghasilkan mikroplastik yang kemudian bermuara ke laut.
“Makanya ada penelitian, bahwa gonggong di pesisir Batam ini diduga tercemar mikroplastik,” katanya.
Menolak Punah Dimulai dari Kepedulian
Diskusi kemudian berkembang pada makna menolak punah sebagai gerakan bersama untuk menjaga lingkungan dan masa depan generasi berikutnya.
Yogi mengatakan, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan keputusan yang diambil hari ini tidak menjadi persoalan bagi generasi mendatang.
“Generasi berikutnya bergantung pada keputusan yang kita ambil hari ini. Karena itu, menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Menurutnya, gerakan menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana, termasuk meningkatkan kepedulian terhadap persoalan lingkungan di sekitar.
Ia mencontohkan sejumlah persoalan di Batam seperti limbah elektronik, sampah plastik, hingga perusakan mangrove yang membutuhkan perhatian dan pengawasan bersama.
“Padahal sudah nampak di film ini, bahwasannya lingkungan rusak akan membuat manusia akan punah secara perlahan,” katanya.
Indina juga mengajak masyarakat memulai perubahan dari kebiasaan sehari-hari, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan produk berbahan plastik, serta mempertimbangkan dampak lingkungan sebelum membeli suatu produk.
