KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM — Ancaman kerusakan lingkungan akibat budaya fast fashion dan mikroplastik menjadi perhatian dalam kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Menolak Punah yang digelar di Atrium Pollux Mall Batam Center, Minggu (23/8/2026).
Mengusung tema “Merdeka atau Punah? Batam, Let’s Talk About Our Future!”, kegiatan tersebut mempertemukan puluhan anak muda, pegiat lingkungan, komunitas, aktivis, jurnalis, hingga masyarakat umum untuk membahas dampak industri fesyen terhadap lingkungan serta masa depan generasi mendatang.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 18.45 WIB itu digelar secara terbuka dan gratis. Acara merupakan kolaborasi BatamOn Global Group, Dompet Dhuafa Kepri, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam, Pollux Mall Batam, dan Amigos Batam.
Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter Menolak Punah karya Dandhy Laksono dan Aji Yahuti. Film tersebut merupakan kolaborasi Ekspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang.
Film mengajak penonton melihat lebih jauh hubungan antara pola konsumsi manusia dengan kerusakan lingkungan, khususnya persoalan yang muncul dari industri fesyen modern.
Praktik fast fashion dinilai mendorong masyarakat membeli pakaian dalam jumlah lebih banyak karena harga murah dan perubahan tren yang cepat. Di sisi lain, penggunaan bahan sintetis, limbah tekstil, hingga potensi pelepasan mikroplastik menjadi persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian.
Pakaian berbahan sintetis yang dicuci berulang kali berpotensi melepaskan partikel mikroplastik. Sementara pakaian yang tidak lagi digunakan dan dibuang tanpa pengelolaan yang baik dapat menambah beban limbah.
Dorong Masyarakat Beralih ke Slow Fashion
Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama praktisi slow fashion Indina Putri Fadjar dan jurnalis Mongabay sekaligus Ketua AJI Batam, Yogi Eka Sahputra.
Indina menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin dipengaruhi tren media sosial dan kemudahan berbelanja melalui platform digital.
Menurutnya, tren seperti couple outfit, pakaian bertema tertentu, hingga promosi besar-besaran membuat masyarakat semakin mudah membeli pakaian baru dengan harga murah.
Ia pun mendorong masyarakat lebih selektif sebelum membeli pakaian, salah satunya dengan memperhatikan komposisi bahan dan mempertimbangkan usia pakai produk.
“Meskipun murah, ternyata banyak pakaian yang kandungannya didominasi bahan plastik. Ini yang perlu menjadi perhatian karena dampaknya kembali ke lingkungan,” ujarnya.
Indina menyarankan masyarakat mulai menerapkan prinsip slow fashion, antara lain dengan memilih pakaian yang berkualitas, merawatnya dengan baik, serta memperpanjang masa penggunaan.
Menurutnya, perubahan perilaku konsumen juga perlu diikuti perubahan dari dunia usaha agar kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
“Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, tetapi dunia usaha juga perlu memikirkan keberlanjutan agar pertumbuhan ekonomi tidak meninggalkan persoalan lingkungan, berbisnislah dengan kalbu,” katanya.
