Festival Budaya Batak di Batam, Upaya Menjaga Tradisi agar Tak Terkikis Modernisasi

“Jangan kearifan lokal itu ditutupi dengan modernisasi. Namun bagaimana kita mengindahkan atau memelihara kultur atau budayanya menjadi kekuatan ekonomi,” tutur Johanes Kennedy Aritonang.

Pandangan tersebut menjadi bagian penting dari festival yang akan digelar. Budaya tidak ditempatkan semata sebagai nostalgia terhadap kampung halaman, tetapi sebagai kekayaan yang dapat hidup di tengah masyarakat urban.

Bacaan Lainnya

Mengajak Generasi Muda Mengenal Kembali Identitas

Tantangan terbesar, menurut Johanes Kennedy Aritonang, justru muncul pada generasi muda yang lahir dan tumbuh di Batam.

Sebagian dari mereka tidak lagi mengenal bahasa Batak secara baik. Jarak dengan kampung halaman juga membuat pengalaman langsung terhadap tradisi adat semakin terbatas.

Kondisi itu yang ingin disentuh melalui berbagai perlombaan budaya.

“Ini rangkaian besar dari kegiatan yang kita laksanakan. Meskipun anak-anak itu lahir di sini dan tak bisa lagi bahasa Batak, inilah yang kita gugah melalui kegiatan ini,” katanya.

Karena itu, festival tidak hanya menyasar kelompok tertentu. Berbagai unsur komunitas diharapkan ikut terlibat, mulai dari perkumpulan marga hingga gereja.

Semakin banyak unsur yang terlibat, semakin besar pula ruang bagi generasi muda untuk melihat bahwa budaya Batak bukan sesuatu yang jauh atau hanya milik mereka yang tinggal di kampung halaman.

Johanes Kennedy Aritonang berharap kegiatan tersebut menjadi pemantik bagi lahirnya agenda budaya serupa di masa mendatang.

“Dengan banyaknya jenis lomba yang diperlombakan agar banyak yang terlibat, baik dari marga-marga maupun gereja. Tujuan kegiatan ini kalau bisa sebagai pemicu. Apabila ada yang lain melanjutkan atau menjadi agenda rutin, bisa juga,” ujarnya.

Pada akhirnya, festival tersebut bukan hanya tentang siapa yang memenangkan perlombaan tortor, busana adat, persinabung, atau kegiatan yang berkaitan dengan gondang.

Pos terkait