Layanan perpustakaan tersebut juga dibuka selama enam hari dalam sepekan, yakni mulai Senin hingga Sabtu. Dengan akses yang semakin terbuka, Nyanyang berharap masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas tersebut secara optimal.
Menurutnya, peningkatan budaya membaca merupakan bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia di Kepri.
Apalagi, Kepri memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai daerah yang mengedepankan budaya dan literasi.
“Kepri ini kota budaya, kota literasi. Minat baca yang ada di Kepri sangat luar biasa,” ujarnya.
Namun, Nyanyang juga menyadari bahwa tantangan literasi saat ini tidak hanya datang dari rendahnya akses terhadap buku. Perhatian generasi muda juga harus bersaing dengan berbagai platform digital yang menawarkan informasi dan hiburan secara cepat.
Karena itu, ia mendorong perpustakaan untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman sehingga mampu menjadi pilihan bagi generasi muda di tengah maraknya penggunaan mediasosial dan berbagai platform digital lainnya.
Bagi Nyanyang, teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi. Justru, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas akses terhadap pengetahuan apabila digunakan secara bijak.
Di sisi lain, perpustakaan tetap memiliki peran penting sebagai ruang untuk membaca secara lebih mendalam, mencari referensi, belajar dan mengembangkan wawasan.
“Silakan berkunjung ke perpustakaan daerah,” ajaknya.
Kunjungan Nyanyang menjadi pengingat bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Di tengah perubahan zaman, perpustakaan dapat menjadi ruang publik yang mempertemukan pengetahuan, teknologi dan kebutuhan generasi muda untuk terus belajar.
Dengan puluhan ribu koleksi serta fasilitas pendukung yang tersedia, Gedung Perpustakaan Daerah Provinsi Kepri diharapkan semakin ramai dikunjungi masyarakat dan menjadi salah satu pusat tumbuhnya budaya literasi di Kepulauan Riau. (Iman Suryanto)
