HWPL Gelar Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian

KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA – Di tengah meningkatnya fenomena news avoidance—ketika publik mulai menjauh dari berita karena dianggap melelahkan, penuh konflik, dan minim harapan, sebuah diskusi lintas negara mencoba mengubah arah percakapan.

Pada 18 April lalu, sekitar 220 jurnalis dari berbagai belahan dunia berkumpul secara daring dalam Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian yang diselenggarakan oleh Heavenly Culture World Peace Restoration of Light (HWPL).

Bacaan Lainnya

Mengusung tema “Reporting Solutions in the Age of News Avoidance: Strengthening Audience Agency through Media-Civil Peace Collaboration,” forum ini menghadirkan pertanyaan mendasar: apakah media masih sekadar pelapor peristiwa, atau justru aktor penting dalam membangun perdamaian?

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah news avoidance semakin sering muncul dalam diskursus media global. Banyak pembaca mengaku menghindari berita karena dominasi narasi konflik, krisis, dan ketidakpastian.

Workshop ini mencoba merespons fenomena tersebut melalui pendekatan peace journalism—jurnalisme yang tidak hanya melaporkan konflik, tetapi juga menyoroti solusi, konteks, dan harapan.

Tiga jurnalis dari berbagai negara yang berkontribusi pada Volume 4 Journal HWPL Peace Journalism Studies menjadi pembicara utama. Mereka membawa perspektif yang beragam, namun memiliki benang merah yang sama: media memiliki kekuatan membentuk cara publik memahami dunia.

Jurnalis dari Indepthnews.id, Achmad Yani, membuka sesi presentasi dengan riset tentang peran media internasional dalam meredakan konflik Thailand–Kamboja.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *