Di era digital, konten emosional yang belum terverifikasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Narasi kompleks sering disederhanakan menjadi hitam-putih, memperkuat polarisasi.
Sebagai alternatif, ia menekankan pentingnya, mengkaji akar masalah konflik, menghadirkan beragam perspektif, serta menawarkan solusi konstruktif. Menurutnya, jurnalisme perdamaian adalah antidot terhadap polarisasi.
Meski berlangsung secara daring, workshop berlangsung dinamis. Peserta dari berbagai negara terlibat aktif dalam diskusi kelompok. Mereka membahas bagaimana menghadirkan narasi positif tanpa mengabaikan fakta, serta bagaimana membangun pemberitaan yang memberi harapan.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa publik tidak menolak berita yang terasa buntu.
Workshop ini juga memperkenalkan Media Association for Global Peace (MAGP), jaringan global yang menghubungkan jurnalis dan organisasi non-pemerintah lintas negara melalui platform Substack.
Platform ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi, pertukaran ide, dan pengembangan praktik jurnalisme perdamaian secara global.
Di akhir kegiatan, penyelenggara menegaskan kembali peran strategis media dalam membentuk persepsi publik dan membangun perdamaian.
Pesan yang mengemuka dari workshop ini sederhana namun kuat. Dimana media tidak hanya mencatat sejarah namun juga menentukan arah masa depan.
Di era ketika publik semakin selektif memilih informasi, jurnalisme berbasis solusi mungkin menjadi jalan untuk mengembalikan kepercayaan. Karena di balik setiap konflik, selalu ada ruang untuk harapan—dan jurnalisme dapat membantu menemukannya. (***)
