Dari sisi realisasi investasi, Amsakar menyebut nilai investasi yang masuk ke Batam hingga semester I 2026 telah mendekati Rp60 triliun, atau sekitar Rp59,8 triliun. Sementara itu, target indikator kinerja utama yang ditetapkan mencapai Rp70 triliun.
Ia menilai penyederhanaan perizinan, dukungan regulasi, serta peningkatan standar pelayanan menjadi faktor yang perlu terus diperkuat untuk mempertahankan kepercayaan investor.
“Batam memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai kawasan investasi. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pengelola kawasan, dan investor perlu diperkuat agar investasi yang masuk dapat memberikan manfaat nyata bagi perekonomian,” demikian pokok pesan Amsakar dalam menyambut kerja sama tersebut.
Pengembangan Kawasan Industri Wiraraja Green Renewable Energy & Smart-Eco Industrial Park diharapkan memperluas struktur industri Batam, tidak hanya bertumpu pada manufaktur yang telah berkembang, tetapi juga memasuki sektor industri bernilai tambah tinggi.
Hilirisasi pasir silika menjadi material industri strategis karena dapat mendukung pengembangan berbagai produk berbasis silikon, termasuk material yang digunakan dalam industri semikonduktor.
Namun, realisasi manfaat tersebut akan bergantung pada kesiapan infrastruktur, kepastian lahan, ketersediaan bahan baku, teknologi, dan tahapan pembangunan fasilitas produksi.












