“Beberapa waktu lalu, perbincangan tentang air bersih di Batam luar biasa. Seolah-olah penyusutan yang terjadi di waduk itu karena faktor data center. Padahal, data center ini sedang membangun. Bagaimana mungkin sudah menggunakan waduk atau sumber air yang ada?” ungkapnya.
Karena itu, ia berharap pembangunan SWRO dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai komitmen investor dalam menyiapkan kebutuhan infrastruktur secara mandiri.
Dalam kesempatan tersebut, Amsakar juga menyampaikan perkembangan ekonomi dan investasi Batam yang menunjukkan tren positif.
Ia mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Batam hingga semester I 2026 mencapai 7,28 persen. Sementara realisasi investasi telah menyentuh Rp58,97 triliun atau mendekati Rp60 triliun.
Menurutnya, perkembangan tersebut harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dasar, terutama ketersediaan air bersih dan pasokan listrik yang andal.
Amsakar menegaskan, kedua aspek tersebut menjadi perhatian penting dalam menjaga keberlanjutan investasi data center maupun sektor industri lainnya.
“Isu sensitif terkait data center itu hanya dua, air bersih dan listrik. Untuk listrik sudah ada komitmen dengan PLN, sedangkan air bersih sudah dikomitmenkan melalui SWRO,” tegasnya.
Dengan dimulainya pembangunan SWRO Kabil, Batam diharapkan memiliki alternatif sumber air bersih yang semakin beragam untuk mendukung kebutuhan industri, memperkuat daya saing investasi, serta menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
Proyek ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri digital yang tidak hanya bertumpu pada ketersediaan energi dan konektivitas, tetapi juga didukung infrastruktur air bersih yang memadai.(indah/iman)
