Kebebasan Pers, Etika Wartawan, dan Luka Kepercayaan dalam Catatan Ady Indra Pawennari

Namun, kebahagiaan itu rupanya juga membuka pintu bagi sebuah kenangan lama yang selama ini berusaha saya simpan jauh-jauh.

Ketika membawa Caping pulang dan melihat nama saya tercetak di sampulnya, ingatan tentang sebuah buku lain perlahan muncul. Buku yang semestinya sudah terbit tiga tahun lalu. Buku yang bukan kumpulan tulisan tiga wartawan, melainkan biografi tentang perjalanan hidup saya sendiri.

Bacaan Lainnya

Ironisnya, buku itu hingga kini tak pernah menjadi kenyataan.

Tiga tahun lalu, seorang rekan sejawat datang dengan gagasan menulis biografi saya. Awalnya, saya justru merasa tidak pantas. Menurut saya, perjalanan hidup saya belumlah sedemikian istimewa hingga harus dibukukan. Namun, ia meyakinkan saya.

“Abang ini sudah tepat dibikin biografi. Banyak prestasi yang sudah Abang torehkan dan bisa jadi inspirasi,” ujarnya.

Saya termenung. Ada rasa sungkan, tetapi juga terselip kebahagiaan. Bukan karena ingin dipuji atau dikenang sebagai orang hebat, melainkan karena ada seseorang yang menganggap perjalanan hidup dan pengabdian saya layak dicatat.

Saya pun mempertimbangkan rekam jejaknya. Ia seorang jurnalis yang piawai, berlatar pendidikan sarjana dari perguruan tinggi Islam, dan dikenal memiliki sejumlah karya tulis berbobot.

Bagi saya, ia bukan wartawan sembarangan. Saya percaya pada kapasitasnya, terlebih karena kami sama-sama tumbuh dari dunia jurnalistik.
Akhirnya, saya mengiyakan.

Data, dokumen, dan tulisan pendukung saya kirimkan. Ketika ia meminta bantuan untuk membeli laptop guna menunjang proses penulisan, saya menyanggupinya. Uang langsung saya transfer ke rekening BCA miliknya.

Tak lama kemudian, saya kembali mengirimkan biaya operasional agar proses penyusunan biografi itu berjalan lancar.

Saat itu, hati saya berbunga-bunga. Saya membayangkan suatu hari nanti akan ada sebuah buku yang merekam perjalanan panjang saya sebagai wartawan. Bukan untuk membanggakan diri, apalagi merasa lebih hebat daripada orang lain, melainkan sebagai catatan perjalanan yang mungkin dapat dipetik pelajarannya oleh generasi sesudah saya.

Beberapa bulan kemudian, saya menanyakan perkembangannya. Jawabannya, penulisan masih berproses. Saya memaklumi. Menulis buku memang membutuhkan waktu, ketekunan, dan kesungguhan.

Namun, waktu terus berjalan. Menjelang setahun, kabarnya mulai menghilang. Pesan-pesan saya tak lagi mendapat jawaban sebagaimana sebelumnya. Saya mencoba menghubunginya, berharap memperoleh penjelasan tentang janji yang pernah ia ucapkan.
Sayangnya, harapan itu tak kunjung menemukan jawaban.

Pos terkait