Mardanis menegaskan bahwa Batam selama ini tidak pernah mengalami kekurangan stok hewan kurban. Mobilitas pasokan dari berbagai daerah menjadi faktor kunci menjaga stabilitas ketersediaan.
“Untuk stok, pada prinsipnya Batam tidak pernah mengalami kekurangan. Pasokan hewan ternak terus didatangkan dari luar daerah dan akan terus bertambah mendekati hari raya,” katanya.
Selain ketersediaan, aspek kesehatan hewan menjadi faktor krusial dalam menjaga kepercayaan masyarakat dan stabilitas pasar. DKPP Batam bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia wilayah Kepri dan Badan Karantina Kepri melakukan pengawasan berlapis sejak sebelum pengiriman hingga menjelang penyembelihan.
Setiap hewan yang masuk wajib melalui uji laboratorium di daerah asal sebelum dikirim ke Batam. Setelah tiba, pemeriksaan berkala kembali dilakukan, terutama satu hingga dua minggu sebelum hari raya.
Hewan yang dinyatakan sehat akan diberi penandaan khusus, sedangkan yang terindikasi penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tidak diperbolehkan diperjualbelikan maupun dijadikan hewan kurban. Sistem pengawasan ini tidak hanya melindungi masyarakat, tetapi juga menjaga stabilitas harga dan mencegah kerugian pedagang.
Perdagangan hewan kurban di Batam setiap tahun melibatkan ribuan pekerja, mulai dari peternak, sopir logistik, pedagang, tenaga kesehatan hewan, hingga pelaku jasa pendukung seperti penyedia kandang sementara, pakan, dan jasa pemotongan. Dengan kebutuhan mencapai 9.000 ekor, nilai transaksi diperkirakan menembus puluhan hingga ratusan miliar rupiah.
Momentum Iduladha juga berdampak pada sektor transportasi laut dan darat yang mengangkut hewan ternak dari berbagai provinsi. Aktivitas ini memberikan efek domino bagi ekonomi regional, terutama di daerah pemasok.(Iman Suryanto)










