Lebih lanjut, Rony menekankan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya bergantung pada daerah produsen. Berdasarkan asesmen Bank Indonesia, daerah pasar utama seperti Batam justru memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga.
“Yang diuntungkan dari stabilitas harga itu justru daerah pasar utama. Di daerah produsen, saat panen raya misalnya cabai, harga bisa sangat fluktuatif. Tetapi di daerah konsumsi, stabilitas bisa dijaga melalui komunikasi dan koordinasi yang baik,” ungkapnya.
Karena itu, ia menilai komunikasi intensif antara pemerintah daerah dan distributor menjadi kunci utama dalam mengantisipasi gejolak harga. Koordinasi tersebut mencakup pemantauan stok, kelancaran distribusi, hingga upaya mendatangkan pasokan tambahan jika diperlukan.
Selain memperkuat distribusi, BI Kepri juga mendorong pengembangan pasokan di dalam daerah melalui kerja sama antarwilayah atau skema perdagangan antardaerah, terutama dengan sentra produksi bahan makanan.
“Insya Allah program kerja sama antar daerah produksi akan terus dilanjutkan. Ini bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan,” tambahnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, Bank Indonesia berharap stabilitas harga dan inflasi di Kepri tetap terkendali, meski di tengah dinamika pasokan yang tinggi dan ketergantungan terhadap daerah lain. (Iman Suryanto)










