Menurutnya, masyarakat mampu membedakan antara ketegasan terhadap pelanggaran hukum dan sikap terhadap masyarakat kecil.
Karena itu, ia mengingatkan agar publik tidak mudah terprovokasi oleh potongan informasi yang berkembang di media sosial.
“Tidak ada niat merendahkan siapa pun. Jangan sampai kita saling melukai hanya karena narasi yang tidak utuh. Batam dibangun dengan semangat kebersamaan,” katanya.
Lebih lanjut, Iman mengungkapkan bahwa polemik yang muncul sebenarnya telah disikapi secara baik melalui komunikasi langsung. Ia menyebut Li Claudia telah bertemu dengan sejumlah tokoh masyarakat dari kelompok yang sebelumnya merasa tersinggung.
Pertemuan tersebut, kata Iman, berlangsung hangat dan penuh suasana kekeluargaan. Dialog yang dilakukan menghasilkan saling pengertian serta komitmen bersama untuk menjaga keharmonisan masyarakat.
“Mereka sudah duduk bersama, berbincang santai, saling memahami, bahkan saling memberikan dukungan untuk membangun Batam ke depan. Jadi sebenarnya tidak ada persoalan yang perlu diperbesar lagi,” jelasnya.
Iman menegaskan bahwa komunikasi yang baik telah menghasilkan kesepahaman bahwa seluruh elemen masyarakat memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga Batam tetap aman, harmonis, dan berkembang sebagai kota yang nyaman bagi semua golongan.
Ia menilai perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam masyarakat demokratis. Namun, penyelesaiannya harus dilakukan melalui dialog terbuka dan sikap saling menghargai.
“Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita menjaga persatuan. Jika ada perbedaan pendapat, selesaikan dengan dialog dan hati yang dingin,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Iman berharap masyarakat tidak lagi terjebak dalam narasi yang dapat memecah suasana. Ia mengajak semua pihak untuk fokus mendukung pembangunan serta menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Batam.
“Batam dibangun dengan semangat kebersamaan. Mari kita rawat kota ini dengan hati, dengan kasih sayang, dan dengan cara-cara yang menenangkan, bukan saling memperkeruh keadaan,” tutupnya. (Iman)
