KABAREKONOMI.CO.ID, Jakarta – Semangat persatuan dan kebangsaan tidak hanya dapat diwariskan melalui pidato, buku sejarah, maupun upacara peringatan. Pesan tentang menjaga Indonesia juga bisa disampaikan melalui karya seni dan musik yang menyentuh lintas generasi.
Pesan itulah yang diangkat Lukita Dinarsyah Tuwo melalui sebuah lagu berjudul Menuju Seratus Tahun. Karya ini membawa refleksi tentang perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari ikrar para pemuda pada 1928 hingga tanggung jawab generasi masa kini dalam merawat persatuan.
Melalui lirik yang sarat pesan kebangsaan, Lukita mengajak masyarakat kembali mengingat bahwa Indonesia lahir dari keberanian anak-anak muda yang memiliki latar belakang suku, bahasa, dan daerah berbeda, tetapi memilih untuk berdiri dalam satu cita-cita.
Pesan tersebut tergambar dalam penggalan lirik pembuka:
“Dari pulau, dari tepian
Dari beragam suku dan bahasa
Para pemuda merajut harapan
Meneguhkan Indonesia.”
Lirik itu menggambarkan keberagaman sebagai bagian penting dari identitas bangsa. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun Indonesia secara bersama-sama.
Gagasan tersebut kemudian dipertegas melalui bagian reffrain yang menjadi inti pesan lagu.
“Satu tanah air, Indonesia
Satu bangsa, teguh bersama
Bahasa persatuan, suara kita
Berbeda-beda, satu cita.”
Pesan tersebut mengingatkan kembali pada tiga ikrar utama Sumpah Pemuda, yakni bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.












